| Berita lainnya |
Sri Paus ketika itu mengimbau rezim Kuba agar menghargai kebebasan beragama dan berpendapat. Satu dasawarsa kemudian harapan akan perubahan lenyap sudah. Gereja Katolik tidak lagi melontarkan kritik terhadap masyarakat secara terbuka, tapi lebih mengikuti haluan pastoral yang mengutamakan penginjilan.
Pada misa yang dipimpin Sri Paus di lapangan Revolusi tahun 1998, ribuan warga Kuba meneriakkan yel-yel: ‘Libertad, Libertad, merdeka, merdeka.’ ‘Hari itu hari terang, karena yang berdiri di lapangan itu bukan seorang pemimpin militer, tapi seorang pria yang memberitakan pesan lain,’ kata Dagoberto Valdes. Ketika itu Valdes bekerja sukarela sebagai pemred Vitral, majalah keuskupan Vitral.
Ia menulis naskah-naskah kritis tentang kehidupan sehari-hari di Kuba, mendirikan pusat pendidikan sipil dan pembentukan religius di tempat tinggalnya, yaitu keuskupan Pinar del Rio. Itu dilakukannya untuk memperkuat demokrasi. Untuk itu ia mendapat penghargaan Claus Prijs. Sri Paus juga memberikan hadiah istimewa bagi jerih payahnya, yaitu sebuah alkitab. Dengan terharu Valdes menunjukkan fotonya bersama kepala gereja katolik.
Tania (33 tahun), seorang perempuan Katolik yang saleh, juga masih ingat kunjungan sri Paus. ‘Dulu kami sembahyang sendiri di rumah nenek saya, tapi dasawarsa belakangan kami bisa terbuka mengikuti misa. Pernikahan saya dengan seorang pria Katolik juga diberkati di gereja dan kami berbulan madu di sebuah tempat ziarah dekat Santiago de Kuba,’ ceritanya gembira. Dia pakai gelang yang dihias santo-santo Katolik. Banyak anak muda yang pakai gelang serupa itu. Agama Katolik semakin kuat sejak kunjungan Sri Paus.
Musik Gereja
Tahun 1998 Alina Orraca, pemimpin paduan suara gereja Katolik Schola Cantorum Carolina di Havana, menyajikan sejumlah lagu-lagu religius bersama kelompok paduan suaranya saat misa yang dipimpin Paus Johannes Paulus II. Menurutnya hak religius gereja makin bertambah. ‘Pasca kunjungan Sri Paus gereja lebih sering diijinkan menyelenggarakan prosesi. Kelompok paduan suara gereja juga lebih sering tampil. Saat ini saya sibuk mempersiapkan musik untuk perayaan Paskah.’ Selain Paskah, hari Natal sudah menjadi hari libur nasional di Kuba.
Dagoberto Valdes tidak seoptimis Orraca. Menurutnya partai komunis Kuba berupaya melepaskan negerinya dari Sri Paus. Ia menyebutnya ini ‘despapar’ a Kuba. Valdes sendiri mengalami apa maknanya istilah itu ketika ia kehilangan fungsinya sebagai insinyur di sebuah pabrik tembakau negara. Bukan saja pemerintah yang mengecam pekerjaan jurnalistiknya, gereja Katolik pun menghadang Valdes. Uskup liberal di Pinar del Rio diganti oleh rohaniwan yang lebih konservatif yang membredel majalah dan memecat pemrednya. Vitral kini terbit dalam wajah baru dan naskah-naskahnya lebih moderat. Valdes tidak lagi bekerja untuk Vitral. Gereja Katolik lebih moderat pasca kunjungan Sri Paus.
Didiamkan
Tania menyesalkan pemecatan Dagoberto Valdes di Vitral. Dia setuju dengan analisa Valdes soal posisi gereja. ‘Kami tidak akan pernah lagi melihat tayangan ulang misa Paus Johannes Paulus II di televisi. Pesannya didiamkan. Untung saja saya masih punya rekaman video kunjungan Sri Paus yang berulangkali saya lihat.’ Dia juga menyimpan fotokopi-fotokopi lama majalah Vitral. Dengan bangga ia mengeluarkannya dari tas.
Bukan Paus Benedictus, namun sekretaris Vatikan Tarciosio Bertone yang berkunjung ke Kuba. Menurut Marianne Moore dari organisasi IKV/Pax Christi ini terutama merupakan kunjungan simbolis. Raúl Castro mengumumkan setiap topik bisa dibahas. Kemungkinan gereja katolik akan mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan evangelisasi.
Vatikan ingin memperluas akses ke media milik negara untuk menyebarkan injil. Privilese lain yang dihargainya adalah pendirian sekolah-sekolah Katolik. Yang pasti, kedatangan Kardinal ini tidak akan disoroti media besar-besaran seperti kunjungan Sri Paus tahun 1998. [rnw]
Masuk: 24 Jul 2008 (17:23 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi