• Situs ini telah dibuka sebanyak 2.964.057 kali
• OS Anda: Tidak Dikenal
• Browser Anda: Tidak Dikenal
• IP Anda: 38.107.179.223
• Ini adalah kunjungan Anda ke 39
• Unique visitors:
lebih
ditail
Syalom, teman sy seorg muslim. Dia pernah bilang ke sy bhw dalam Alkitab (dia ga bilang PL atau PB, tetapi krn dia bilang itu perkataan Nabi Isa maka sy pikir itu adanya di PB), Yesus pernah memerintahkan murid-murid-Nya utk menyebut 'Insya Allah' sebelum melakukan perjalanan.
Apakah hal itu betul? Jika ya, di kitab mana?
Lalu kenapa tidak ada lagi tradisi itu sekarang?
Trima kasih
[#2] 29 April 2010 (07:54 WIB) Re: Insya Allah Abd Allah
18 posting
Jenny : saya kutipkan tulisan dr suatu page website :
Pada umumnya umat Kristiani berani memastikan sesuatu yang belum tentu atau belum pasti terjadi. Mereka beranggapan asal percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat, dijamin "pasti masuk surga". Padahal memastikan seseorang masuk surga, itu bukan hak atau wewenang kita manusia, itu hanyalah hak Tuhan saja. Jika ada umat Islam mengatakan kepada mereka kata "Insya Allah", sering diprotes, katanya "Jangan insya Allah-insya Allah dong, yang pasti aja dong!!" Mereka tidak memahami bahwa mengucapkan Insya Allah adalah sesuatu yang dianjurkan dalam kitab suci Al Qur'an dan juga Alkitab. Tetapi sebagian besar umat Kristiani tidak paham bahwa didalam Alkitab sebenarnya dianjurkan mengucapkan Insya Allah bila mengatakan sesuatu yang belum tentu terjadi. Bahkan dikatakan, bila tidak mengucapkan Insya Allah sesuatu yang belum pasti terjadi, dia tergolong sombong, dan bahkan berdosa.
Mari kita perhatikan ayat Alkitab sebagai berikut:
* yakobus 4:13-17
"Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa."
"Ia minta diri dan berkata: "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya." Lalu bertolaklah ia dari Efesus." (kis 18:21)
"Tetapi aku akan segera datang kepada mu, kalau Tuhan menghendakinya. Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka. (1 kor 4:19).
Kata-kata dalam semua ayat ayat tersebut yaitu "Jika Tuhan menghendakinya" dan "Jika Allah menghendakinya" serta "Kalau Tuhan menghendakinya", semua itu maknanya sama yang dalam Al Qur'an disebut "insya Allah".
Didalam Alkitab cetakan lama, kata-kata "Jika Tuhan Menghendakinya" semuanya tertulis jelas dengan kata "insya Allah”
Perhatikan Alkitab lama cetakan tahun 1960 sebagai berikut:
"Hai kamu jang berkata: "Bahwa hari ini atau besoknja biarlah kita pergi kenegeri anu serta menahun disitu, dan berniaga dan mentjari laba"; pada halnja kamu tiada mengetahui apa jang akan djadi besoknja. Bahaimanakah hidupmu itu? Karena kamu hanja suatu uap, jang kelihatan seketika sahadja lamanja, lalu lenjap. Melainkan patutlah kamu berkata: "Insya Allah, kita akan hidup membuat ini atau itu". Tetapi dengan hal jang demikian kamu memegahkan dirimu dengan djemawanmu itu; maka semua kemegahan jang demikian itu djahat. Sebab itu, djikalau orang jang tahu berbuat baik, pada halnja tiada diperbuatnja, maka mendjadi dosalah baginja (yakobus 4:13-17)
"Melainkan sambil meminta diri ia berkata: "insya Allah, aku akan kembali kepadamu." (kis 18:21)
"Tetapi insya Allah aku akan datang kepadamu dengan segeranja, dan aku akan mengetahui bukan perkataan mereka itu jang......dst. (1 kor 4:19)
(Arabic Bible)
Dalam Al Qur`an, mengucapkan kata insya Allah merupakan suatu kewajiban bila kita tidak mengetahui sesuatu yang bakal terjadi. Perhatikan ayat-ayat Al Qur`an sebagai berikut:
Fa lammaa dakhaluu ‘alaa vuusufa aawaa ilaihi abawaihi wa qaalad khuluu mishra insyaa-allaahu aaminiin
"Maka tatkala mereka masuk menemui Yusuf, Yusuf membawa ibu bapaknya ke tempatnya dan berkata, "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman. " (QS. 12:99)
Qaala satajidunii insyaa-allaahu shaabiraw wa laa a`shii laka amraa.
"Musa berkata, "Insya Allah engkau akan mendapati aku orang yang sabar dan aku tiada mengingkari perintahmu. " (QS.18:69)
Fa lammaa balagha ma`ahus sa`ya qaala yaa bunayya innii araa fil manaami annii adzbahuka fanzhur maadzaa taraa qaala yaa abatif`al maa tu`maru sa tajidunii insyaa-allaahu minas shaabiriin.
"Maka tatkala anak mencapai umur dapat bekerja bersamanya, Ibrahim berkata, "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi bahwa aku akan menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?" Dia berkata, "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau; insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. 37:102)
[#3] 30 April 2010 (06:07 WIB) Re: Insya Allah Yosi Rorimpandei
34 posting
Salam Jenny,
Mungkin yang dimaksud oleh teman Anda adalah Yakobus 4:15. Ini bukan omongan Yesus, tetapi tulisan Rasul Yakobus kepada jemaat Kristen di perantauan.
Ucapan "jika TUHAN menghendakinya" yang terdapat pada ayat ini sebetulnya merupakan ucapan lazim di wilayah Semit. Orang-orang Yahudi mengucapkan "im gozer Hashshem" (jika TUHAN berkenan) dalam setiap rencana atau keinginan mereka.
Menurut Ben Syra, seorang penulis Yahudi, ucapan seperti itu telah lazim sejak dulu kala, jauh sebelum lahirnya Islam. Ucapan itu bahkan tak hanya diucapkan oleh orang-orang Yahudi, tapi juga oleh orang-orang Het dan Turk, yang notabene mengalamatkan sebutan itu kepada dewa mereka.
Jadi, ucapan itu sudah merupakan warisan tradisional, bukan hanya ada di Islam-Arab saja. Tapi, sudah sejak zaman Ibrani, bahkan jauh sebelum itu. Ucapan itu tak hanya digunakan oleh kaum monoteis, tapi juga oleh kaum politeis.
Di Kekristenan, tradisi ini sebetulnya bukan tidak ada lagi. Dalam banyak pengalaman, saya sering mendengar orang Kristen berkata, "kalau TUHAN inginkan" atau "jika TUHAN izinkan" dan sejenisnya. Hanya saja, orang Kristen tidak mengucapkannya dalam Bahasa Ibrani, Aram atau Yunani (apalagi Arab). Jadi, kesannya seolah-olah tradisi itu tidak ada lagi.
Sebenarnya tidaklah penting ucapan itu diucapkan dengan bahasa mana saja, yang terpenting adalah kepada siapa ucapan itu dialamatkan.
[#4] 03 Agustus 2010 (21:01 WIB) Re: Insya Allah
Alon Ng
4 posting
Trima kasih penjelasannya
[#5] 19 September 2010 (17:50 WIB) Re: Insya Allah
Moranda girsang
1 posting
shalom untuk Jenny,
ikut nimbrung saja soal insya Allah. Saya setuju dengan penjelasan sdr Yosi, yang ingin saya tambahkan hanyalah dalam kepastian atau keyakinan tentang "insya Allah". Ucapan ini tidak berlaku di dalam hal "Keselamatan" yang dianugerahkan Allah di dalam Yesus Kristus. Artinya setiap orang Kristen harus memiliki kepastian/keyakinan akan keselamatannya, bukan karena keyakinannya, tetapi karena itulah penegasan dari Firman Allah. Karena itu orang Kristen tidak perlu menyebutkan "insya Allah saya akan masuk sorga"; sebab jika ia berkata begitu sama saja dengan meragukan akan pernyataan Firman Tuhan, tentang kepastian keselamatannya.
Tetapi untuk perencanaan atau kegiatan kesehariaannya, maka orang Kristen memang seharusnya mengucapkan "insya Allah" atau dengan bahasa Kristennya "jika Tuhan berkenan". Mengapa? Karena setiap orang Kristen tidak tahu apakah yang dia rencanakan merupakan sesuatu yang pasti selaras dan sesuai dengan kehendak Tuhan yang terbaik.
Semoga bisa menjadi memperlengkapi penjelasan yang sudah ada. Tuhan Yesus memberkati.
[#6] 20 September 2010 (00:50 WIB) Re: Insya Allah
Anthony C Siregar
1 posting
Setuju....
Manusia berkehendak (dengan sungguh2 dan didorong karena keyakinan imannya akan pengharapan yang boleh terjadi) tetapi semuanya tergantung pada Sang Penguasa Waktu dan Kehidupan.
Insya Allah dipahami dalam konteks iman kepada Allah, kedaulatan mutlak Allah dan kepatuhan manusia pada Allh. Jadi Isya Allah tdak sama dengan mudah2an. Ia harus dipahami: saya bertekad kuat untuk melakukannya tapi diri saya takluk pada kemauan sang pemilik waktu dan hidup.
Anthony C Siregar
[#7] 24 September 2010 (01:23 WIB) Re: Insya Allah
hamba alloh
2 posting
kenapa sudah tidak pernah terdengar lagi org nasrani bilang"insya allah" padahal di alkitab cetakan lama seperti yg dikatakan sdr abdullah jelas2 tertulis insya allah dan bukan "jika allah menghendaki dsb, ini memang sudah byk terlihat atau mengindikasikan ada upaya2 pendeta nasrani untuk sedikit demi sedikit merubah segala tulisan yg ada di alkitab jaman dahulu jika ada ayat2 yg seolah2 berhubungan atau mengarah kepada pembenaran ajaran islam atau alquran maka para pendeta ini secara halus dan pelan merubah itu semua sampai menjadi alkitab yg sekarang yg sdh jauh berbeda dgn alkitab aslinya,jadi kemurnian alkitab injil atau bible ini diragukan kemurnian isi nya karena telah byk mengalami perubahan dan itu dilakukan oleh tangan manusia,sedangkan alquran dari jaman nabi muhammad sampai sekarang tidak ada sedikitpun yg dirubah dan tidak pernah ada revisi oleh tangan manusia.
[#8] 24 September 2010 (23:13 WIB) Re: Insya Allah
anthony
1 posting
Sebaiknya kita saling menahan diri untuk tidak memberi komentar terhadap agama orang lain, karena ada kemungkinan yang kita komentari tidak kita pahami dengan baik seperti si penganut agama tersebut.
Khusus mengenai Alkitab, banyak teman2 muslim mengklaim bahwa Alkitab yang saat ini dipakai orang Kristen sudah tidak asli dan selalu berubah-ubah. Dari satu sisi mungkin hal ini ada benarnya, tapi mungkin pandangan ini disebabkan karena kurangnya pemahaman yang lebih menyeluruh tentang apa dan bagaimana Alkitab bagi orang Kristen. Alkitab yang saat ini sering dipakai orang Kristen adalah Alkitab terjemahan dari Bahasa Ibrani dan Yunani, dimana bahasa ini bukanlah bahasa pergaulan di antara orang2 Kristen yang ada di Indonesia. Untuk itu perlu adanya usaha penerjemahan ke dalam bahasa2 yang umum dipakai oleh para pembaca Alkitab, sehingga Alkitab diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan versi. Dari satu cetakan ke pencetakan berikutnya selalu ada usaha perbaikan penerjemahan agar lebih mudah dipahami. Hal inilah yang membuat sering ada perbedaan antar edisi.
Tetapi Alkitab asli dalam bahasa Ibrani dan Yunani tidak berubah setelah proses Kanonisani selesai, Tahun 100 M untuk PL adan abad ke 4 untul PB. Sebenarnya masih banyak yang bisa saya ceritakan untuk membantu Saudara memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana orang Kristen memahami kitab Sucinya.
Hal yang sama juga, saya tidak punya hak untuk memberikan penilaian terhadap qur'an karena keterbatasan pemahaman saya, sehingga tidak ada kesan saya mengakimi kitab suci orang lain dari sudut kaca mata agama saya yang nyata-nyata berbeda. Salam