• Situs ini telah dibuka sebanyak 2.964.227 kali
• OS Anda: Tidak Dikenal
• Browser Anda: Tidak Dikenal
• IP Anda: 38.107.179.223
• Ini adalah kunjungan Anda ke 41
• Unique visitors:
lebih
ditail
Saya melayani di sini sejak tamat kuliah di Malang thn 1980. Sejak itu Saya fokus untuk memberitakan Injil di desa-desa kecil di sekitar tempat pelayanan Saya dengan metode memanfaatkan budaya asli yang telah dikristenkan.
Namun belakangan ini saya dan teman-teman pelayan di sini dirisaukan oleh satu kelompok yang mengajarkan nama "Jahweh." Mereka mengajarkan jemaat untuk meninggalkan Allah dan percaya kepada Jahweh saja. Akibat ajaran mereka jemaat kami bingung dan bertanya2 mana yang benar.
Kami sudah berinisiatif mendiskusikan masalah ini dengan pendeta-pendeta di gereja-gereja kota tapi ternyata mereka juga sedang risau dengan ajaran itu. Bagaimana kami harus menyikapinya?
Tolong bantu kami, trima kasih.
Tuhan Yesus memberkati
Terakhir diedit oleh: Moderator pada 02 Mei 2010 (18:33 WIB): "Perbaikan pada ejaan agar lebih mudah dibaca"
Apakah Ibu sudah mencoba melakukan dialog dengan kelompok yang Ibu maksudkan?
Memang sekarang ini ada begitu banyak kelompok-kelompok Kristen--bahkan sebagian tidak mau menyebut dirinya "Kristen"--yang menawarkan alternatif-alternatif kekristenan, yang umumnya mengklaim kembali ke akar kekristenan mula-mula.
Sebagian meniscayakan perubahan-perubahan yang telah dialami kekristenan selama berabad-abad, sebagian lagi menyebut perubahan-perubahan itu sebagai upaya penyelewengan iman dan tradisi Kristen sejati.
Beberapa dari kelompok-kelompok ini memang bersifat agresif, sehingga sering "menjengkelkan" bagi sebagian orang. Tapi inilah uniknya kekristenan. Kekristenan menjadi berkembang justru karena banyaknya orang-orang yang seperti itu, yang lahir dari kekristenan sendiri. Apalagi di era sekarang, ketika akses informasi dan pengetahuan menjadi terbuka lebar bagi semua orang.
Namun, saran Saya, cobalah duduk bersama lebih dulu. Diskusikan apa yang kira-kira menjadi uneg-uneg Ibu dan kawan-kawan. Sebab, bisa saja mereka tidak memahami hal-hal itu.
Jika sudah berdialog dan ternyata tidak ada hasilnya, barulah Ibu memikirkan langkah selanjutnya bagaimana. Misalnya perlunya membekali jemaat dengan pengetahuan-pengetahuan teologis untuk meng-counter maraknya kelompok-kelompok seperti itu.
1. Nama YHWH (Yahweh) tertulis dalam naskah sumber khususnya Kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Kethuvim) dalam bahasa Ibrani.
2. Beberapa terjemahan asing seperti American Standard Version, New Jerusalem Bible, Young's Literal Translation, dll menuliskan nama YHWH dalam transliterasi Yahweh dan Jehovah.
3. Beberapa terjemahan Kitab Suci baik Jawa, Nias, Batak menuliskan nama YHWH dalam bentuk Yehuwah, Jahoba, Yehofa, dll
4. Diperlukan pembacaan kembali literatur yang berkait mengenai nama YHWH agar ibu memahami sejauh mana nama itu memiliki relevansi dalam devosi dan homili
5. Diperlukan penguasaan bahasa teks sumber baik Ibrani maupun Yunani untuk memahami persoalan nama YHWH
6. Kontekstualisasi bukan bermakna mengontekstualisasikan nama Tuhan. Nama Tuhan tidak bisa dikontekstualisasikan. Tokoh Wisnu tidak bisa kita pakai untuk menggambarkan Yesus Kristus. Kontekstualisasi hanya pada message (pesan) pewartaan agar mudah diterima oleh budaya setempat.
7. Ibu dapat mengakses salah satu dari sekian kajian mengenai nama Tuhan di link berikut: ::link::
Penjelasan Bang Teguh tentang Y-H-W-H menunjukkan Abang begitu menguasai Bahasa Ibrani. Saya salut dengan orang-orang seperti Abang.
Kenalkan, saya Andar, dosen Bahasa Ibrani di salah satu STT di Medan, Sumatera Utara. Izinkan saya membetulkan sedikit Bahasa Ibrani Saudara.
Abang menulis "Shalom Leka" lalu diikuti dengan sapaan "Yth. Ibu Herawati" berarti sapaan "Shalom Leka" itu buat Ibu Herawati, jadi seharusnya bukan "Shalom Leka" melainkan "Syalom Leakh" karena objeknya perempuan. Huruf kaf tidak diberi titik pengeras, jadi ditulis "kh."
Terimakasih atas koreksinya. Betoel, seharusnya "Shalom Leakh" karena yang disapa perempuan. Saya terkadang mengucapkan "Bapak dan Ibu yang saya kasihi dalam Tuhan" walaupun yang hadir hanya ibu atau bapak saja. Kebiasaan di komunitas yang saya gembalaka selalu ada bapak dan ibu. Salam hormat!
Terimakasih atas penjelasan Bang Andar. Oh ya, saya juga memberikan ulasan di beranda sebelah mengenai dugaan adanya nubuat bagi Muhamad dalam Kitab Injil. Silahkan mengecek. Salam kenal (teguhhindarto.multiply.com+::link:: )
Kami mengerti dan mendukung pelayanan Ibu , mohon dipelajari arti Yoh 3:16 dan Yohanes 14:6 dimana dikatakan bahwa Yesus adalah JALAN dan KEBENARAN dan HIDUP
Mari kita pelajari dan kembali kepada ALKITAB yang adalah FIRMAN ALLAH, FIRMAN yang hidup (Yohanes 1:1) , jangan melihat dominasi gerejanya karena gereja tidak menyelamatkan, hanya DIA yang menyelamatkan dan memberikan kehidupan kekal
Ya tidak masalah pake nama Allah. Paling tidak ada 6 sebutan yang berbeda untuk Yahweh, seperti Yah, Adonai, Elohim, Eloah, El, dll.
Kata Allah berasal dari bahasa Arab. Mungkin ini yang jadi sumber masalah. Dianggap ini Allahnya orang Islam dan Allah orang Islam dianggap bukan Allah kita. Padahal siapa sih yang Kuasa menciptakan isi dunia ini. Allah yang kita sembah dan yang mereka sembah ini ya sama. Cuma mereka mengklaim saja, tetapi teologia yang mereka terima belum tentu dari Allah yang mereka sembah.
Tetapi ini tidak masalah. Sebutan Allah sudah dipakai oleh orang-orang Kristen di Arab, jauh sebelum Muhammad mendeklarasikan Alquran. Jadi bagi Allah sendiri tidak masalah, Dia disembah dengan sebutan apa, mengapa kita yang mempermasalahkan?
[#10] 23 September 2010 (13:13 WIB) Re: mohon bantaun
Karel Miru
1 posting
Syalom buat semua,
Sekedar nimbrung, menurut saya justru bijak adalah kita berpatokan pada Alkitab terbitan LAI. Toch nama Yahweh sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan bahasa daerah. Jadi bukan soal nama tapi bagaimana kita memuliakan Nama itu sebagai satu-satunya sesembahan kia. Selamat melayani Bu...
ibu, seharusnya tidak kaget seperti itu, cobalah ibu melihat setiap perkembangan dunia secara keseluruhan sampai ke pelosok-pelosok desa sudah mengalami perubahan yang drastis bahkan sampai ke gereja-gereja bahwa semua orang berhak memberi dan menerima informasi secara luas, itu berarti bahwa butuh metode baru untuk mengatasi persoalan itu dengan melihat jawabannya dalam urutan alkitab dari kejadian sampai dengan wahyu.
kemungkinan mereka tidak mengakui adanya Anak Allah yang Hidup yaitu Yesus, "ya Yesus". mereka hanya menyebutnya "Yahwe".
alternatif jawaban yang saya tawarkan adalah cobalah tanamkan dan pertahankan kembali peristiwa penciptaan sampai pada masa ketika Tuhan Yesus datang kedunia untuk menggenapi Taurat dan hanya menganjurkan untuk kita memakai 2 hukum saja.