| Ensiklopedi lainnya |
Menggunakan bahasa Babilonia dengan dialek Akkadian. Ibu kotanya Babilon (Babel). Asyur dan Babilon (Babel) menjadi dua kota yang menonjol pada kira-kira 1700 SM. Sebelumnya terdiri dari Akkad di sebelah utara dan Sumer di sebelah selatan.
Pemandangan Umum atas Sejarahnya
Assyria memiliki desa-desa pertanian kecil sejak milenium ke-7 SM. Babilonia memiliki desa-desa kecil yang bersifat semi-nomadik di daerah-daerah anak sungai. Sepanjang pertengahan milenium ke-4 SM (± 3500 SM), kebudayaan Mesopotamia mengembangkan irigasi dalam skala besar, dalam arti kanal (terusan).
Pada masa itu, kita dapat menemukan bentuk peradaban yang nyata: arsitektur yang monumental, seni patung (skulptur) yang mengagumkan, dan sistem tulis pertama di dunia, yang disebut sistem piktografik (satu kata diwakili oleh satu huruf). Kemudian, kuneiform (huruf paku) menggantikan sistem ini dengan versi yang lebih abstrak. Sebagai medium penulisan digunakan lempengan tanah liat. Setelah dibakar, justru menjadi bahan yang tahan lama yang telah bertahan jauh lebih lama dibanding papirus Mesir.
Karena Mesopotamia hanya memiliki sedikit batu dan tidak memiliki pohon, maka mereka membangun rumah dari batu bata yang dibuat dari lumpur. Akibatnya, bangunan-bangunan monumental Mesopotamia kuno hancur menjadi tumpukan lumpur setelah dimakan usia.
Di setiap wilayah, otoritas politik berdasarkan majelis politik yang mempraktekkan suatu demokrasi yang primitif. Majelis memilih pegawai, misalnya "en" (seorang pemimpin religius dan manajer ekonomi) dan "lugal" (pemimpin perang darurat). Kemudian, posisi-posisi ini digabungkan pada seorang raja.
Periode dinasti awal diwarnai dengan perang di berbagai wilayah. Kemudian, beberapa wilayah memiliki kekuatan yang cukup untuk bersatu membentuk beberapa empire (kerajaan): Babilonia, Assyria, Neo-Babilonia, dan Persia.
Hammurabi dari Babilon (Babel) berkuasa sekitar 1792-1750 SM. Ia adalah seorang yang sangat terkenal yang merumuskan hukum di Babilonia.
Pada milenium pertama SM, terdapat suatu persaingan antara Babilonia dan Assyria. Tiglath-pilesar III (745-727 SM) merebut Babilon (Babel). Penerusnya adalah Sargon II dan Sennacherib. Assyria jatuh pada tahun 609 SM di bawah dua gabungan kekuatan Babilonia dan Medes. Nabopolassar, seorang Armian, mendirikan sebuah dinasti. Anaknya, Nebukhadrezzar (atau yang lebih dikenal dengan nama Nebukhadnezzar) menaklukkan Syria (dan Kanaan). Pada masa ini, Aramaik menjadi lingua franca (yang digunakan sebagai bahasa resmi kerajaan). Aramaik sangat dekat dengan bahasa Ibrani.
Tahun 539, Babilon menerima Sirus (Koresh), seorang Persia, menjadi raja. Sejak itu, periode Persia dimulai.
Numinous
Thorkild Jacobsen menggarisbawahi bahwa lingkungan Mesopotamia kuno mencerminkan pemandangan umum penduduk Mesopotamia. Tidak seperti Sungai Nil di Mesir, Sungai Tigris dan Efrat berkembang sangat pesat, mereka dapat membangun tanggul di kedua sungai itu. Hujan yang deras membuat daerah itu penuh dengan rawa. Akibatnya, penduduk Mesopotamia menyadari bahwa mereka terperangkap di antara suatu kekuatan yang lebih kuat dari mereka sendiri.
Fenomena alam menambah pengalaman hidup mereka. Halilintar yang mendominasi dataran rendah Mesopotamia dianggap sebagai ksatria, kilat sebagai tombaknya dan guntur sebagai kereta perangnya. Bumi adalah ibu, yang melahirkan tumbuh-tumbuhan setiap tahunnya.
Kepercayaan terhadap Tuhan di dalam masyarakat Mesopotamia mula-mula nampak dipersonifikasi ke dalam aspek-aspek alam, misalnya: Anu (langit) atau Hursag (kaki bukit). Kadang-kadang en (laki-laki) atau nin (perempuan) ditambahi namanya, misalnya Enlil (penguasa badai) atau Ninana (penguasa kurma).
Tuhan juga direpresentasikan dalam bentuk anthropomorfis.
Kultur Mesopotamia melihat alam semesta sebagai sebuah wilayah --suatu versi kosmik dari kota mereka-- karena itu diatur oleh sebuah majelis dengan suatu sistem demokrasi primitif. Manusia tidak mungkin masuk dalam majelis ini, sama seperti budak tidak memiliki tempat di antara penduduk Mesopotamia. Para dewa mempertimbangkan kasus-kasus yang ada hingga mereka mencapai konsensus.
Susunan dewa Mesopotamia adalah:
- Anu, dewa langit (sky) yang merupakan ayah dari para dewa
- Enlil, (Penguasa Badai) dewa angin dan badai, seorang pegawai eksekutif dari majelis ilahi
- Nunurta, putra dari Enlil, dewa bajak
- Ninhursaga, penguasa kaki bukit, yang menghuni pegunungan di kawasan timur, "putri yang memberikan kelahiran"
- Enki atau Ea, "Penguasa Bumi" dewa air di bawah bumi
- Inanna (awalnya Ninana, juga disebut Ishtar), "Penguasa Kurma" dan "Penguasa langit (heaven)", dewi kesuburan dan cinta, pelindung perempuan jalang
- Dumuzi, dewa bayangan, suami Inanna (disebut "Tamus" dalam Yeh. 8:14)
- Ereshkigal, "ratu bumi yang lebih luas" yaitu bawah tanah
- Marduk atau Merodakh, "lembu jantan halilintar", dewa Babilon
Kuil
Kuil biasanya dibangun dengan batu bata dari lumpur. Mereka biasanya membangun kembali reruntuhan kuil yang lama.
Penyembahan
Kehidupan digambarkan sebagai "drama", dikenal ada Pernikahan Suci, Drama Kematian, Drama Pertempuran, dan sebagainya.
Dalam Pernikahan Suci, en menjadi dewa, yang membawa persembahan ke kuil. Ia mempersembahkan para mempelai kepada Inanna untuk memperoleh kebahagiaan dan kesuburan.
Dalam Drama Kematian, prosesi sengsara dilakukan di gurun pada awal musim panas untuk meratapi kematian dewa kesuburan, Dumuzi (lihat Yeh. 8:14).
Ada juga festival Akitu (waktu kebangkitan bumi), yaitu festival utama Marduk sebagai peringatan awal tahun.
"Enuma Elish" adalah syair penciptaan versi Babilonia yang berkaitan dengan ritual tahunan untuk menetapkan kembali perang pada masa Akitu. Pada festival awal tahun, kisah penciptaan diceritakan kembali.
Perlu dicatat: bahwa cerita pertempuran kosmik antara pencipta dan kekuatan chaos (kekacauan, khususnya naga atau monster laut) adalah cerita yang lazim di Timur Dekat Kuno. Bandingkan penaklukkan Baal atas Yamm ("Laut") dalam mitos Kanaan.
Ayub 26:12,13; Maz. 74:13,14; 89:9,10; dan Yes. 27:1 ditulis dengan kata-kata yang sama dengan mitos Kanaan:
"Meskipun kamu membunuh Lotan, ular yang meluncur,
membuat akhir ular yang melingkar,
taring busuk dengan Tujuh Kepala."
Kalender, Matematika, dan Astronomi
Babilonia menggunakan sistem dasar Matematika 60. Itulah sebabnya mengapa kita memiliki 60 menit dalam satu jam, 360 derajat satu lingkaran, dan sebagainya.
Dalam sistem astronomi, Babilonia telah mengenal sistem perbintangan yang luar biasa, seperti adanya sistem keteraturan astronomi: Tropis Cancer (Garsi Enlil), Tropis Capricorn (Garis Ea), Ekliptik (Garis lintang, kemungkinan orbit Yupiter). Semuanya ini berpengaruh terhadap kisah banjir besar yang diceritakan dalam Gilgamesh.
Mereka membagi bintang dalam 12 divisi utama yang sekarang kita kenal dengan nama zodiak. Dalam sistem Babilonia, masing-masing divisi bintang memiliki 3 stasiun yang terpisah sepanjang 10 derajat.
Yahudi dan tradisi lain menggunakan nama-nama bulan Babilonia dan sistem kalender mereka. []
© Yoses R
Aktivis Magen Avraham
Masuk: 12 Jun 2008 (16:34 UTC+07)









Komentar Pembaca
Rekomendasi