| Ensiklopedi lainnya |
Meskipun Yakobus, Petrus dan Yohanes tampil sebagai sokoguru, tetapi bentuk kepemimpinan yang diterapkan bukanlah hirarki, melainkan sinergi. Setiap keputusan diambil secara bersama-sama oleh para rasul (Kisah Para Rasul 6:6).
Pada masa-masa awal pelayanan para rasul, pelayanan difokuskan di Yerusalem untuk membentuk komunitas baru, yang kemudian disebut ekklesia (jemaat). Jemaat ini terdiri dari orang-orang Yahudi yang mengikut Yesus dan juga terdapat beberapa orang non-Yahudi yang menjadi percaya. Mereka mengadakan persekutuan-persekutuan yang bersifat persaudaraan, sehingga mereka saling menyapa “adelfos” (Saudara).
Pada perkembangan berikutnya, jumlah jemaat yang bergabung semakin banyak dan terpusat di Yerusalem. Ketika jumlah jemaat semakin banyak, mulai bermunculan masalah-masalah yang tidak bisa ditangani sendiri oleh para rasul, misalnya “pelayanan meja” (Kisah Para Rasul 6:1).
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka ditunjuklah orang-orang khusus, yang mewakili para rasul. Uniknya, dalam penunjukan tersebut, murid-murid tidak mengikuti cara Yesus yang memilih langsung berdasarkan otoritas-Nya, melainkan mereka mempersilakan jemaat untuk memilih dari antara mereka. Para rasul hanya menetapkan jumlah dan syarat-syarat (Kisah Para Rasul 6:3-5). Cara pemilihan semacam ini mengikuti tradisi pemilihan tua-tua dan hakim-hakim dalam Perjanjian Lama. Tetapi, para wakil yang dipilih dalam Kisah Para Rasul 6 memiliki fungsi sebagai wakil para rasul, yang berbeda dengan fungsi tua-tua dan hakim-hakim di Israel.
Selain memilih wakil-wakil mereka, para rasul juga mengadopsi bentuk pemerintahan Yahudi, misalnya dengan adanya penunjukan para presbuteros (presbiter, tua-tua jemaat atau penatua). Kata presbuteros sudah digunakan sejak lama dalam teks Septuaginta (LXX) untuk menerjemahkan kata zaqen (misalnya dalam Keluaran 3:16).
Para tua-tua jemaat merupakan pelayan-pelayan yang ditunjuk untuk membantu para rasul mengawasi jemaat dan mengambil keputusan. Mereka juga ditunjuk untuk mengelola jemaat-jemaat lokal, misalnya jemaat di Yudea (lihat Kisah Para Rasul 11:29, 30).
Di Yerusalem, tidak ada penjelasan bagaimana tua-tua jemaat itu dipilih dan ditetapkan. Jika para rasul mengikuti pola tua-tua Israel, maka kemungkinan mereka adalah orang-orang yang berwibawa di antara jemaat, yang dipilih langsung oleh jemaat dan ditahbiskan oleh para rasul. Di luar Yerusalem, tua-tua jemaat ditetapkan langsung oleh para rasul (Kisah Para Rasul 14:23), kemungkinan dipilih juga dari antara orang-orang yang dihormati dari jemaat-jemaat setempat, tetapi tidak jelas siapa yang memilih mereka, apa rasul-rasul sendiri ataukah jemaat setempat.
Oleh Paulus, para tua-tua jemaat itu disebut episkopos (penilik jemaat, uskup) (Kisah Para Rasul 20:17-28; Titus 1:5-7). Jadi, pada awalnya, tidak ada perbedaan antara presbuteros (tua-tua) dan episkopos (penilik). Presbuteros merujuk pada jabatan, sedangkan episkopos merujuk pada fungsi mereka.
Sebutan episkopos (penilik) diadopsi oleh Paulus atau gereja perdana dari istilah Yunani. Dalam masyarakat Yunani, episkopos (penilik) adalah orang yang ditugaskan untuk menjalankan fungsi pengawasan. Jabatan ini tidak begitu dikenal di kalangan Yahudi. Dalam LXX, kata episkopos muncul dalam kaitan dengan tugas keagamaan dalam Bilangan 4:16, menerjemahkan kata Ibrani: pequdda (penanggung jawab), bukan sebuah jabatan khusus.
Istilah episkopos (penilik) kemudian berkembang di kalangan Kristen-Yunani, karena istilah ini lebih akrab di kalangan orang-orang Hellenis. Menurut J.L. Abineno, jabatan episkopos (penilik) sangat cepat berkembang sesuai dengan perkembangan jemaat-jemaat yang berada dalam dunia Hellenis. Sementara itu, jabatan presbuteros (tua-tua) hanya digunakan dalam jemaat-jemaat Kristen-Yahudi.
Dalam surat-surat Paulus juga ditemukan istilah diakonos (diaken; pelayan jemaat). Jabatan ini berangkat dari jabatan tujuh pelayan dalam Kisah Para Rasul 6. Mereka sering disebutkan bersama-sama dengan episkopos (penilik), misalnya dalam Filipi 1:1 dan 1Timotius 3. Artinya, diakonos berbeda dengan episkopos (penilik).
Jika merujuk pada Kisah Para Rasul 6, diakonos (pelayan) adalah orang-orang yang dipilih oleh jemaat untuk membantu para rasul mengurusi pelayanan meja. Artinya, kedudukan mereka sejajar dengan presbuteros (tua-tua) atau episkopos (penilik), hanya terdapat perbedaan tugas.
Namun, pada perkembangan kemudian, mulai terbentuk hirarki. Bentuk hirarki khusus mulai berkembang pada zaman Paulus, misalnya ketika ia menunjuk Timotius sebagai pemimpin sekaligus pengawas jemaat di Efesus (1Timotius 1:3). Timotius memiliki wewenang untuk mengawasi para presbuteros (tua-tua) (1Timotius 5:19) serta diberi hak untuk menunjuk pengajar-pengajar jemaat (2Timotius 2:2).
Rasul Paulus juga memberi wewenang khusus kepada Titus, yaitu suatu wewenang yang sama dengan Timotius dalam mengatur jemaat di Kreta, termasuk menetapkan presbuteros (tua-tua) di setiap kota (Titus 1:5). Sementara, presbuteros (tua-tua) di ibu kota ditetapkan oleh Rasul Paulus dan Rasul Barnabas (Kisah Para Rasul 14:21-23).
Kedudukan Timotius dan Titus bukanlah sebagai presbuteros atau episkopos, bukan juga sebagai diakonos. Keduanya memiliki kedudukan sebagai wakil langsung Paulus, seperti tujuh pelayan dalam Kisah Para Rasul 6. Namun, fungsi mereka melebihi pelayan-pelayan itu, sebab Timotius dan Titus tak hanya bertugas “melayani meja.” Melalui merekalah Paulus menyampaikan pesan-pesan dan pengajarannya kepada jemaat-jemaat lokal.
Sebagian teolog Kristen menyebut sistim yang digunakan oleh Paulus ini adalah sistim episkopal. Namun, sistim episkopal nampaknya merupakan perkembangan kemudian di kalangan Kristen-Yunani. Apalagi, istilah episkopos tidak populer di kalangan para rasul di Yerusalem. Istilah ini hanya digunakan oleh Paulus. Dalam Perjanjian Baru, istilah episkopos yang digunakan langsung dalam kaitannya dengan jabatan dalam jemaat hanya muncul sebanyak 4 kali (Kisah Para Rasul 20:28; Filipi 1:1; 1Timotius 3:2; dan Titus 1:7). Bandingkan istilah presbuteros yang muncul hingga 18 kali.
Ketika para rasul mempersilakan jemaat untuk menunjuk tujuh orang pelayan dalam Kisah Para Rasul 6, menunjukkan bahwa sistim kongregasional juga diakomodir oleh para rasul. Sementara, kesejajaran kedudukan antara presbuteros dengan diakonos menunjukkan adanya sistim presbiterial.
Jadi, jika kita mencermati perkembangan sistim pemerintahan dalam Perjanjian Baru, tidak akan dijumpai satu sistim tunggal, sebab ada perbedaan situasi yang dihadapi. Para rasul misalnya berkonsentrasi di Yerusalem. Segala sesuatu mereka pusatkan ke Yerusalem, termasuk kedudukan mereka. Umumnya jemaat mereka adalah jemaat yang homogen, yaitu orang-orang Yahudi yang percaya kepada Kristus.
Para rasul dibantu oleh para diakonos (pelayan jemaat) untuk pelayanan meja dan para presbuteros (tua-tua jemaat) untuk pengawasan jemaat dan pengambilan keputusan. Sementara, secara hirarki, keputusan tertinggi ada di tangan para rasul. Namun, umumnya keputusan-keputusan diambil bersama-sama dengan para prebuteros (tua-tua jemaat).
Paulus menghadapi situasi yang berbeda. Jemaatnya tersebar di wilayah-wilayah Asia Kecil, di luar Palestina, dan cenderung bersifat heterogen, yang merupakan percampuran antara orang-orang Yahudi dan non-Yahudi yang percaya kepada Kristus. Dalam kondisi tertentu, Paulus menunjuk dan menempatkan wakil-wakilnya di suatu jemaat lokal, seperti Timotius dan Titus. Mereka bertugas untuk mengajar, mengawasi dan membentuk sistim yang mapan di jemaat lokal.
Wakil-wakil Paulus ini bertindak atas nama Paulus. Jadi, merekalah yang menjadi pengambil keputusan tertinggi. Meski demikian, mereka tidak bisa mengabaikan peran para prebuteros (tua-tua jemaat) dan diakonos (pelayan jemaat) lokal. Jika terjadi masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh para presbuteros (tua-tua jemaat) maupun oleh wakil-wakil yang ditempatkan Paulus, maka masalah itu akan disampaikan kepada Paulus untuk mendapatkan nasihat. Paulus sendiri bertanggung jawab kepada sidang para rasul di Yerusalem.
Dalam kasus perselisihan di Antiokhia (Kisah Para Rasul 15), Paulus dan Barnabas tidak bisa menyelesaikan sendirian. Untuk itulah, mereka bersama-sama dengan beberapa perwakilan jemaat, kemungkinan para presbuteros (tua-tua jemaat), berangkat ke Yerusalem untuk bertemu dengan para rasul dan presbuteros (tua-tua jemaat) di sana untuk mengadakan sidang. Keputusan sidang itulah yang menjadi acuan penyelesaian masalah di Antiokhia.
Dari penjelasan di atas kita dapat mengidentifikasi bagaimana sistim yang berlaku dalam gereja mula-mula. Nampaklah bahwa gereja mula-mula dikendalikan terutama oleh sidang para rasul di Yerusalem. Sidang para rasul ini dipimpin oleh tiga sokoguru, yaitu Yakobus, Petrus dan Yohanes, tetapi ketiganya tidak ditempatkan dalam posisi tertinggi melebihi rasul-rasul yang lain, melainkan mereka hanya berperan sebagai moderator di antara para rasul.
Bersama-sama dengan para rasul, terdapat juga sejumlah tua-tua atau presbuteros, yang oleh Paulus disebut juga penilik atau episkopos. Mereka memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan, sebagaimana dalam sidang di Yerusalem. Selain itu juga terdapat pelayan-pelayan atau diakonos, yang membantu para rasul dalam menjalankan “pelayanan meja” (diakonia). Para diakonos ini memang difokuskan pada pelayanan diakonia, sehingga mereka tidak pernah disinggung terlibat dalam pengambilan keputusan menyangkut konflik dalam jemaat.
Dalam kasus di Efesus dan Kreta, terdapat jabatan lain yang dipegang oleh Timotius dan Titus. Keduanya ditunjuk langsung oleh Paulus untuk menjadi pemimpin guna melantik dan mengawasi fungsi dan peran para presbuteros dan diakonos di dua kota itu. Peran Timotius dan Titus inilah yang kemudian menjadi acuan mengenai keberadaan seorang uskup atau bishop. Tetapi, peran keduanya nampaknya berbeda dengan peran uskup atau bishop pada zaman gereja sekarang.
Pada akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa sistim pemerintahan pada zaman para rasul merupakan sistim pemerintahan yang dinamis dan dikelola secara kolektif antara para rasul, presbuteros dan diakonos. Tidak ada hirarki yang jelas, karena semuanya menempatkan diri sebagai pelayan-pelayan Kristus, sebagai kepala jemaat atau gereja.
SISTIM PEMERINTAHAN GEREJA MULA-MULA
Yang dimaksud dengan gereja mula-mula di sini adalah periode gereja setelah para rasul tiada. Mengapa penting untuk melihat periode ini? Sebab, pada masa inilah gereja mulai menyadari pentingnya suatu sistim pengelolaan yang baik bagi gereja, setelah gereja semakin tersebar ke berbagai wilayah.
Pada zaman para rasul, segala persoalan gereja selalu diselesaikan dengan mengacu pada keputusan sidang para rasul yang terpusat di Yerusalem. Namun, seiring perkembangan gereja, banyak persoalan mulai diselesaikan sendiri oleh gereja-gereja lokal, khususnya gereja-gereja di wilayah Asia Kecil, dengan meminta nasihat kepada para perintis atau tokoh panutan mereka, seperti Paulus, Petrus, Apolos, Barnabas dan Silas.
Persoalan baru dihadapi gereja tatkala para rasul dan para tokoh perintis tersebut tiada. Sistim pemerintahan yang diwariskan kepada mereka adalah sistim pemerintahan bersama yang dipimpin oleh para presbuteros. Masing-masing gereja lokal juga mengelola gerejanya sendiri-sendiri. Ikatan antara satu gereja dengan gereja yang lain cenderung bersifat ikatan historis dengan tokoh-tokoh perintis mereka. Inilah yang dihadapi gereja pada abad ke-2.
Tidak banyak catatan tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada abad ke-2. Namun, tulisan-tulisan Ignatius dari Antiokhia cukup memberi informasi mengenai sistim pemerintahan gereja yang berkembang pada masa itu.
Akibat adanya tekanan pemerintah Romawi serta ancaman perpecahan gereja, pada abad ke-2, gereja-gereja mulai dipimpin oleh satu pemimpin yang disebut episkopos (penilik). Dalam surat Ignatius kepada jemaat di Magnesia, Ignatius memberikan pengajaran tentang episkopos (penilik/uskup/bishop), presbuteros (tua-tua/presbiter) dan diakonos (pelayan/diaken). Menurut Ignatius, episkopos seperti TUHAN, presbuteros seperti sidang para rasul, sedangkan diakonos melambangkan pelayanan Kristus. Hal tersebut ditegaskan kembali oleh Ignatius dalam surat kepada jemaat Tralles. Dalam surat itu, Ignatius menulis bahwa episkopos adalah gambaran TUHAN, presbuteros adalah gambaran dewan ilahi dan sidang para rasul, sedangkan menghormati diakonos haruslah seperti menghormati Kristus.
Jelas bahwa dalam surat-surat Ignatius, ia selalu menyebut episkopos dengan kata tunggal, sedangkan presbuteros dan diakonos selalu menggunakan kata jamak. Ignatius juga menggambarkan episkopos sebagai pemimpin sidang presbuteros.
Tulisan lain yang cukup membantu adalah tulisan Klemens dari Aleksandria. Dalam tulisannya, Klemens juga membedakan antara episkopos dengan presbuteros dan diakonos. Klemens menambahkan bahwa hak untuk mentahbiskan presbuteros dan diakonos ada di tangan episkopos, sedangkan seorang presbuteros “hanya bisa menumpangkan tangan, tetapi tidak bisa mentahbiskan” (kheirothetei ou kheirotonei).
Dari sumber-sumber ini dapat disimpulkan bahwa pada periode gereja mula-mula atau periode setelah para rasul, jabatan presbuteros dan episkopos yang tadinya sama, sudah dipisahkan dengan tegas, dimana episkopos memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding presbuteros. Setiap gereja lokal dipimpin oleh seorang episkopos. Episkopos memimpin sidang presbuteros.
Ignatius sendiri adalah murid langsung dari rasul Yohanes. Ia adalah episkopos di Antiokhia pada abad ke-2. Pada masa itu, episkopos di Antiokhia adalah episkopos yang sangat dihormati di wilayah Asia Kecil. Itulah sebabnya, Ignatius mengirimkan surat-surat penggembalaan kepada jemaat-jemaat di Efesus, Magnesia, Tralles, Filadelfia, dan Smyrna. Meski demikian, tidak ada sebutan khusus bagi episkopos di Antiokhia pada waktu itu. Artinya, ia dihormati sebatas senioritas dan kharisma. Apalagi, jemaat di Antiokhia diyakini secara tradisi merupakan jemaat yang dirintis oleh rasul Petrus, serta menjadi basis pelayanan Paulus dan Barnabas. Dalam Kisah Para Rasul 11:26 disebutkan bahwa di Antiokhialah pengikut-pengikut Kristus pertama kali disebut khristianous (Kristen).
Dalam perkembangan selanjutnya, ketika Kristen menjadi agama resmi Kerajaan Romawi, terdapat juga episkopos-episkopos lain yang dihormati, yakni episkopos di Aleksandria dan Roma. Episkopos di kedua kota tersebut dihormati karena kedudukan penting dua kota tersebut. Aleksandria menjadi pusat kerajaan Romawi dan pengembangan kebudayaan Greko-Hellenis (percampuran antara kebudayaan Yunani dan Romawi) di timur, sedangkan Roma merupakan ibu kota Romawi. Berdasarkan titah kaisar Romawi, maka episkopos Roma menjadi episkopos tertinggi.
Selanjutnya, ketika Kerajaan Romawi terpecah dua, Timur (berpusat di Konstantinopel) dan Barat (berpusat di Roma), perlahan-lahan kekuatan Romawi bergeser ke timur. Pada akhirnya, Konstantinopel menjadi sangat kuat dan menjadi ibu kota kerajaan baru yang bernama Byzantium, sering juga disebut Kerajaan Romawi Timur. Seiring dijadikannya Konstantinopel sebagai ibu kota baru, maka episkopos di Konstantinopel pun mendapatkan kedudukan terhormat, setingkat di bawah episkopos Roma.
Dengan demikian, hirarki pemerintahan gereja menjadi jelas ketika Kristen menjadi agama resmi Romawi. Untuk kepentingan politik, yakni kestabilan kerajaan, maka kaisar menunjuk satu episkopos sebagai pemimpin tertinggi gereja. Inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya sistim Paus dalam gereja. []
© Yosi Rorimpandei
Aktivis MA
Masuk: 02 Ags 2011 (00:20 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi