| Eksklusif Papua lainnya |
“Kekerasan yang sering terjadi di Papua bisa terhapuskan, kami mengajak para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan jurnalis untuk mendukung sepenuh hati perdamaian di Papua,” ujar Direktur Eksekutif Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia (Interfidei) Dr. Agustina Elga Joan Sarapung dalam konferensi pers di Gedung Griya Upakara, Jakarta, Minggu (6/11).
“Berbagai persoalan tersebut menimbulkan banyak pertanyaan, bukan hanya pada negara melainkan pada agama-agama,” katanya.
Elga mengatakan bahwa ia bersama masyarakat sipil Indonesia membentuk Petisi Masyarakat Sipil Jaringan Antariman se-Indonesia. Petisi ini menginginkan perwujudan perdamaian di Papua.
Hal yang sama diungkapkan oleh Johan Efendy, seorang tokoh Muslim, yang mengatakan, Papua membutuhkan sentuhan hati. Ia berpendapat bahwa pemerintah Indonesia seharusnya melihat latar belakang kekecewaan rakyat Papua terhadap bangsanya.
“Sentuhlah Papua dengan hati. Harusnya pemerintah kita pikirkan latar belakang orang kecewa, bukan tindakan mereka karena kecewa. Kalau kekerasan ini terus berlanjut, masalah di Papua tidak akan pernah usai,” tutur Johan.
Johan menunjukkan keprihatinannya yang mendalam terhadap senjata-senjata yang bertebaran di tanah Papua seolah-olah warga Papua terlalu berbahaya untuk negara ini.
“Berbagai operasi militer dan perlawanan kelompok sipil bersenjata justru melahirkan bentuk kekerasan baru. Saling melawan justru menunjukkan tanda-tanda konflik di Papua tidak akan berakhir,” tandasnya.
Ia meminta pemerintah membuka pintu dialog termasuk dari tokoh agama agar memberikan nilai-nilai kemanusiaan untuk menciptakan kedamaian di Papua. []
© Cath News
Masuk: 09 Nov 2011 (00:15 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi