| ||
| Eksklusif Papua lainnya | ||
Dalam uraiannya dijelaskan bahwa hubungan yang harmonis antar umat beragama merupakan salah satu jalan untuk mewujudkan wilayah Papua sebagai "Tanah Damai".
Lebih lanjut dikatakannya,hubungan harmonis tersebut harus senantiasa berdasarkan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia.
Relasi yang harmonis antar manusia lanjut Dosen Misiologi, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STF) "Fajar Timur" Abepura, Papua,itu, ditandai dengan kejujuran, rasa saling percaya, keadilan, kesetaraan, persahabatan dan persaudaraan. Selain itu juga dengan sikap saling menghormati dan pengakuan sebagai umat manusia.
Selain hubungan harmonis dengan sesama umat beragama, Pastor Neles juga menekankan bahwa relasi dengan alam penting terjalin untuk mempertahankan kehidupan yang selaras di dalam masyarakat.
"Merusak alam tidak hanya menghancurkan habitat material dari ekosistem hutan dan sumberdaya lainnya, tapi juga kehidupan manusia," tegas mantan Wakil Uskup Jayapura itu, seperti dikutip Antara.
Realita yang terjadi di Papua menunjukkan bahwa alam bisa dengan mudah dihancurkan melalui eksploitasi yang semena-mena terhadap sumberdaya alam demi memenuhi kepentingan pihak-pihak tertentu.
Dengan demikian, perlu adanya upaya perlindungan terhadap alam dan penggunaan sumberdaya alam secara sepatutnya guna mendukung kebutuhan hidup seluruh manusia dan dapat menciptakan Papua sebagai tanah damai.
"Papua Tanah Damai" merupakan semboyan sekaligus komitmen yang dideklarasikan para pemimpin agama (Kristen, Katolik, Islam, Hindhu dan Budha) pada 5 Februari 2003.
Motto Papua Tanah Damai selanjutnya berkembang menjadi visi dari masyarakat lintas agama di Papua. [cp]
⇒ 25 Nov 2009 (15:11 UTC+07)










Komentar Pembaca
Diskusi