| Eksklusif Papua lainnya |
Seperti dilaporkan Forum Solidaritas Umat Kristen Manokwari-Papua Peduli "Sowi Berdarah", peristiwa itu bermula dari kecelakaan lalulintas di jalan raya Drs Esau Sesa di mana seorang pengojek menabrak seorang warga. Pengojek berusaha melarikan diri dan kemudian ditangkap warga. Tapi seorang anggota aparat Brimob yang berpakaian preman berusaha menyelamatkan orang tersebut dari amuk massa. Akibatnya, aparat berpakaian preman itu menjadi sasaran amukan massa.
Aparat Brimob tersebut menghubungi markasnya di Sowi Gunung yang letaknya tak jauh dari tempat kejadian peristiwa dan dengan senjata lengkap aparat menembak dan menyisir dari rumah ke rumah warga masyarakat. Masyarakat pun berlindung ke gunung-gunung. "Pada saat yang bersamaan, anggota Brimob bertindak secara membabi buta yang mengakibatkan kematian dua orang dan satu warga lainnya terluka parah," demikian bunyi pernyataan yang ditandatangani oleh Pdt. Dr. Martin L. Wanna (Ketua) dan Pdt. Akwila Marin, S.Th. (Sekretaris).
Atas penembakan itu, masyarakat suku besar Pedalaman Arfak di Kabupaten Manokwari menuntut pembayaran ganti rugi sebesar Rp 30 miliar, memberikan santunan pada keluarga korban dan menuntut sanksi tegas terhadap aparat yang telah melakukan penembakan.
Menurut Kapolri Bambang Hendarso Danuri, peristiwa tersebut terjadi karena massa menuntut ganti rugi pada Brimob. "Karena enggan membayar ganti rugi, anggota Brimob tersebut dipukuli beramai-ramai hingga mengalami luka-luka. Jadi banyak massa kemudian ditembak kakinya. Sudah clear," ungkapnya seusai shalat Jumat di Masjid Agung Bukit Indah saat mendampingi Presiden SBY ketika meninjau arus balik pemudik di Cikampek, Jawa Barat, Jumat (17/09). []
© Reformata
Masuk: 29 Sep 2010 (16:34 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi