| Serbi-serbi lainnya |
Pengacara tersebut bernama Alex Stewart. Dia seorang ateis. Stewart memegang al-Qur'an dan Alkitab sebelum merobek bagian kecil dari dua kitab suci itu. Robekan kertas itu lalu dia gunakan untuk melinting dedaunan hijau, yang belakangan diketahui adalah potongan rumput.
Dia lalu menghisapnya seperti sedang merokok. Video berdurasi 12 menit tersebut dipajang di Youtube dengan judul “Alkitab atau al-Qur'an, mana yang terbakar lebih baik?” Video tersebut kini telah dihapus oleh pihak YouTube.
Stewart yang merupakan asisten penyelenggara sebuah kelompok bernama Ateis Brisbane, mengaku membuat video itu untuk menanggapi rencana pembakaran Quran oleh Jones di Florida, yang menuai protes dari seluruh dunia. Dalam videonya, Stewart menganggap bahwa al-Qur'an dan Alkitab hanyalah sebuah buku, namun jadi perdebatan dan perselisihan yang tidak perlu.
“Ini hanyalah sebuah buku! Siapa yang peduli? Keyakinanmulah yang terpenting. Sejujurnya, jika kau marah hanya soal buku ini, kau menganggap hidup ini terlalu serius,” ujar Stewart dalam video tersebut, yang sempat dipantau oleh laman harian The Courier Mail dan juga diberitakan The Sydney Morning Herald.
Tindakan Stewart langsung menuai kecaman dari berbagai kalangan, termasuk diantaranya presiden dari Asosiasi Islam Australia, Sheik Muhammad Wahid. Dia mengatakan tindakan Stewart seharusnya tidak perlu dilakukan. “Hal seperti itu seharusnya tidak perlu dilakukan, hanya akan menyebabkan perpecahan dan ketidakharmonisan diantara masyarakat Australia,” ujar Wahid seperti dilansir dari laman Australian Associated Press.
Wahid juga menyerukan umat Muslim Australia untuk tetap tenang dan menyerahkan masalah ini ke pihak yang berwajib. Selain itu, dia juga menyerukan kepada para komunitas di Australia untuk ikut mengecam aksi Stewart. “Saya menyerukan kepada para umat Muslim untuk mematuhi peraturan negara ini dan tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum,” ujar Wahid.
Akibat ulahnya, Stewart dipecat dari tempatnya bekerja di Universitas Teknologi Queensland (QUT). Pihak universitas menyatakan tidak bisa menolerir perbuatan Stewart. “QUT sangat toleran terhadap semua agama dan tidak mendukung segala bentuk penghinaan terhadap simbol agama,” ujar rektor universitas, Carol Dickenson, pada sebuah pernyataan.
Pada sebuah artikel di koran Brisbane, Courier Mail, Stewart membela dirinya dengan mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah lelucon. Dia juga membela hak kebebasan berpendapatnya sebagai warga negara Australia. “Semua orang melakukan ini kapanpun dan jika mereka marah mengenai hal ini, berarti mereka berlebihan,” ujar Stewart. []
© VIVA News
Masuk: 13 Sep 2010 (14:59 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi