| Serbi-serbi lainnya |
Tapi partai anti migrasi yang mapan justru kehilangan banyak suara. Terlepas dari itu, apakah ini tren yang berlaku sekarang? Apakah kemenangan besar partai anti islam Belanda PVV pada pemilu Eropa Kamis lalu merupakan refleksi angin anti islam yang berhembus di seluruh Eropa?
Kemenangan Kanan
Pelbagai partai ekstrim kanan dan anti migrasi menang besar di 10 negara anggota Uni Eropa. Peningkatan paling besar terjadi di Belanda dan Austria. Di Austria, tiga partai ekstrim kanan menang dengan program kampanye penolakan keras kaum pendatang.
Di Belanda partai anti islam PVV pimpinan Geert Wilders meraih 20 persen suara. Partai ultrakonservatif Denmark Partai Rakyat juga menang dan partai rasis Inggris BNP untuk pertama kalinya meraih dua kursi di Parlemen Eropa.
Tapi apakah hasil itu juga merupakan tren yang berlaku di seantero Eropa? Yang menarik, partai-partai anti migrasi yang sudah ada ternyata bernasib tidak begitu bagus. Misalnya partai ekstrim kanan Prancis Front Nasional kalah telak. Selain itu partai ekstrim kanan Belgia Vlaams Belang setelah bertahun-tahun hasilnya naik, kali ini justru kehilangan separuh kursinya.
Tidak Mengikat
Menurut mantan anggota parlemen Eropa Joost Lagendijk, hasil ini menunjukkan gambaran beragam, karena partai ekstrim kanan tua tidak sanggup menarik para pemilih.
Joost Lagendijk: "Front National dan Vlaams Belang sudah menjadi partai mapan, walaupun mereka sendiri menyangkalnya. Itulah yang merugikan mereka. Dalam jangka panjang, pelbagai partai ekstrim kanan ini juga akan menghadapi pertanyaan: apa hasil kalian? Dan kalau jawabannya tidak banyak, para pemilih akan kabur."
Krisis
Tidak bisa dipungkiri, pelbagai partai ekstrim kanan yang baru ternyata sukses di sejumlah negara. Kecenderungan ke arah kanan itu masuk akal dan bisa dijelaskan: krisis keuangan dunia membuat pengangguran meningkat di banyak negara Uni Eropa, dan takut kehilangan pekerjaan keluar dalam bentuk seruan membatasi migrasi. Tapi itupun tidak bisa dipastikan, demikian Lagendijk.
Joost Lagendijk: "Pemikiran bahwa partai anti migrasi sukses dimana-mana, bukanlah kecenderungan yang pasti. Coba lihat negara seperti Spanyol dan Yunani. Di sana migrasi bukan masalah, walaupun tingkat pengangguran dan arus imigrasi tinggi. Di Italia itu lebih jadi masalah. Di sana partai anti migrasi seperti Lega Nord memang."
Turki
Para pemilih Belanda, sudah memberi suara Kamis lalu. Akibat sukses Geert Wilders dan partainya, pemilu Eropa di negara lainnya diikuti dengan seksama oleh Turki, sebagai negara calon anggota. Wilders memperingatkan Uni Eropa terancam Eurabisering, maksudnya pengaraban Eropa jika Turki menjadi anggota.
Tapi menurut Joost Lagendijk, mantan pelapor Turki untuk Parlemen Eropa dan sekarang dosen di Universitas Sabanci di Istanbul, saat ini Turki tidak terlalu terpengaruh:
Joost Lagendijk: "Karena partai-partai besar di Uni Eropa dan Belanda masih mengatakan kurang lebih hal yang sama, yaitu tidak akan mengambil keputusan selama lima tahun ke depan. PVV bisa sukses jika salah satu partai besar Belanda berubah pendapat, tapi menurut saya itu tidak akan terjadi."
Menurut Joost Lagendijk kemenangan moral politikus ekstrim kanan semacam Geert Wilders terutama tergantung pada kemampuan mereka mengarahkan debat nasional soal migrasi dan Islam. Keadaan di Brussel, markas besar Uni Eropa, diperkirakan tidak akan banyak berubah, karena para partai ekstrim kanan tersebut selalu enggan bekerja sama di kalangan mereka atau bergabung dengan fraksi besar dalam Parlemen Eropa. [rnw]
Masuk: 10 Jun 2009 (14:03 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi