| ||
| Serbi-serbi lainnya | ||
Menteri Luar Negeri AS, Hillary Rodham Clinton, telah menandatangani dokumen yang memungkinkan bagi Ramadan dari Universitas Oxford Inggris dan Habib dari Universitas Johannesburg Afrika Selatan untuk mengajukan permohonan visa AS seperti calon pengunjung lain. Demikian seperti dikatakan oleh juru bicara Departemen Luar Negeri, Darby Holladay.
Hillary "telah memilih untuk menjalankan kewenangannya dalam pembebasan untuk kepentingan Tariq Ramadan dan Adam Habib," ungkap Holladay. Keputusan itu dibuat setelah melakukan konsultasi dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Departemen Kehakiman, ia menambahkan.
Namun, ia mengatakan pasangan tersebut "masih akan tunduk pada standar-standar lain" yang berlaku untuk siapa pun yang mencari visa untuk tinggal di AS.
Kebijakan ini dianggap tepat dan konsisten dengan penjangkauan Presiden Barack Obama kepada umat Islam di seluruh dunia dan untuk mendorong dialog global. "Baik presiden dan menteri luar negeri telah membuat jelas bahwa pemerintah AS sedang menargetkan hubungan baru dengan masyarakat Muslim yang didasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati," kata Holladay.
"Kami ingin memiliki kesempatan potensial untuk memiliki cendikiawan Muslim untuk datang ke Amerika Serikat dan berdialog dengan komunitas agama lain dan orang-orang di negara kita," tambah dia.
Langkah itu juga disambut baik oleh Serikat Kebebasan Sipil Amerika (ACLU), yang mengatakan telah mengajukan tuntutan hukum menantang penolakan visa untuk Habib dan Ramadan oleh administrasi sebelumnya, di era Bush. "Perintah mengakhiri pelarangan masuk bagi Adam Habib dan Tariq Ramadan, yang lama tertunda, sangat penting," kata Jameel Jaffer, direktur Proyek Keamanan Nasional ACLU.
"Selama beberapa tahun, pemerintah Amerika Serikat lebih tertarik pada menstigmasi dan membungkam kritikus luar negeri daripada melibatkan mereka," kata dia dalam sebuah pernyataan ACLU.
"Keputusan untuk mengakhiri pelaranagn masuk bagi Habib dan Ramadan adalah tanda bahwa pemerintahan Obama berkomitmen untuk memfasilitasi, bukannya menghalangi, pertukaran ide melintasi perbatasan internasional," tambah dia.
ACLU mengatakan, pemerintahan Bush telah menolak visa bagi puluhan seniman asing, para cendikiawan dan penulis yang kritis terhadap kebijakan luar negeri AS, dan kebanyakan mereka dari Muslim, "tanpa penjelasan atau samar-samar alasan keamanan nasional."
Tariq Ramadan, 47 tahun, dicabut visa tinggalnya di AS pada tahun 2004 saat ia pindah ke Indiana untuk bekerja sebagai pengajar tetap di Universitas Notre Dame. Cucu pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Bana, ini juga pernah mengajar di Universitas Harvard dan Universitas Stanford serta di tempat lain.
Pencabutan hak tinggal Ramadan ini terkait dengan tindakannya yang telah menyumbangkan $1.336 kepada Hamas, kelompok pejuang Palestina yang dicap sebagai organisasi teroris oleh AS. Ramadan menegaskan bahwa dirinya tak ada hubungan apa pun dnegan kelompok teroris. Ia juga termasuk tokoh yang menentang segala bentuk ekstrimisme dan selalu konsisten mengampanyekan solusi damai. Ramadan juga menyatakan bahwa Hamas bukanlah organisasi teroris. "Hamas tidak dianggap sebagai tersangka (teroris) di Eropa, di mana saya tinggal," tegasnya.
Sementara Adam Habib, 44 tahun, pernah tinggal dan belajar di AS pada tahun 1993-1995. Ia mendapatkan gelar doktor dalam ilmu politik dari Universitas New York. Habib mengaku dilarang masuk AS sejak Oktober 2006, saat ia ditanyai oleh kantor Imagrasi AS tentang pandangan politiknya dan ditanya apakah ia mendukung suatu organisasi teroris.
Pada tahun 2007, dalam wawancara dengan Associated Press, Habib menyebut pendekatan AS dalam perang Irak sebagai bencana. Ia juga mengatakan: "Saya yakin bahwa saya tidak dapat dihubungkan dengan hal-hal seperti terorisme. Ini bukan tentang apa aliran poltik saya."
Tidak jelas seberapa cepat pasangan tersebut dapat berkunjung ke AS. Ramadan mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh PEN American Center, sebuah kelompok hak asasi manusia, bahwa ia "sangat senang dengan keputusan untuk mengakhiri pelarangan dari AS setelah hampir enam tahun."
Ia mengaku sudah tak sabar untuk berkunjung ke AS segera, dan PEN mengatakan akan mengorganisir sebuah forum di New York di mana ia bisa memberikan ceramah.
Dalam sebuah pernyataan ACLU, Habib mengatakan bahwa ia gembira dengan keputusan itu dan menyebutnya sebagai kemenangan pribadi maupun "bagi demokrasi di seluruh dunia." [rep]
⇒ 21 Jan 2010 (16:33 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi