| Serbi-serbi lainnya |
Peletakan batu pertama dilakukan sehari setelah Israel menentang keinginan AS, Eropa, dan Palestina untuk menghentikan aktivitas penempatan warga Yahudi itu dengan mengumumkan bahwa akan dibangun 900 apartemen di wilayah Yahudi yang lain di Jerusalem Timur.
Berbicara kepada Fox News di Beijing Rabu (18/11), Obama mengkritik rencana membangun ratusan rumah di Jerusalem Timur itu. Dia menegaskan, tindakan itu akan mempersulit pencapaian perdamaian di wilayah itu dan menyakitkan hati warga Palestina, serta dapat membahayakan.
Palestina mengklaim Tepi Barat dan Jerusalem Timur, daerah-daerah yang dikuasai Israel dalam perang Timur Tengah tahun 1967, karena harapan mereka akan sebuah negara dan telah menolak perundingan sampai Israel menghentikan pembangunan hunian di kawasan itu. Pihak Palestina menegaskan, melanjutkan pembangunan hunian di wilayah yang mereka klaim, akan membuat keinginan mereka untuk membangun sebuah negara yang nyata di tanah mereka sendiri menjadi mustahil terwujud.
Tidak Menanggapi
Tetapi, Pemerintah Israel tidak mau menanggapi pernyataan Obama itu. Menteri Luar Israel Negeri Avigdor Lieberman mengatakan, Israel tidak akan menghentikan pembangunan di Gilo. Dia menyebut, pembangunan hunian itu sebagai sebuah kesatuan dari Israel dan sebuah kesatuan dari Jerusalem.
Masa depan Jerusalem Timur adalah isu yang paling sulit dalam konflik Israel-Palestina. Daerah itu, termasuk batas Kota Tua Jerusalem, wilayah kota suci yang sensitif bagi orang Yahudi, Kristen, dan Islam. Israel menganeksasi Jerusalem Timur sesaat setelah perang 1967 dan mengklaim semua kota (Jerusalem) sebagai ibu kota abadi. Meskipun, penguasaan itu tidak pernah diakui oleh negara-negara lain.
Saat berbicara di parlemen pada Rabu (18/11), Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak menyinggung ketegangan dengan AS dan menyangkal seorang anggota parlemen Arab yang bertanya mengapa dia membiarkan pembangunan baru di Gilo.
Netanyahu mengulangi lagi permintaannya untuk melanjutkan pembicaraan damai dan mengkritik pihak Palestina yang menolak kembali ke meja perundingan. "Saya berharap, Palestina menjawab permintaan kami untuk perundingan," ujarnya. "Palestina sudah membiarkan diri mereka sendiri dengan penilaian-penilaian yang tidak realistis," imbuhnya.
Dia mengakui, Israel menghadapi badai kritik internasional. Uni Eropa mengungkapkan, kecemasannya atas proyek Gilo itu. Menurut Uni Eropa, aktivitas pembangunan hunian, pembongkaran rumah-rumah milik warga Palestina di Jerusalem Timur, dan pengusiran keluarga-keluarga Palestina dari harta milik mereka mengancam perundingan serta mematikan kelanjutan pencapaian solusi kedua negara tersebut.
Di Tepi Barat, Juru Runding Palestina Saeb Erekat senang dengan kritik dunia internasional. Dia mengatakan, proyek Gilo mengundang 900 lebih alasan kenapa harapan untuk menyelamatkan solusi kedua negara dan memulai lagi perundingan yang murni mundur dengan sangat cepat dan mengapa Israel tidak menjadi rekan perdamaian. [sp]
Masuk: 19 Nov 2009 (16:58 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi