| Serbi-serbi lainnya |
Resepsi tersebut, dirancang untuk diadakan pada 6 Desember, dan akan mengundang para diplomat, pimpinan gereja dan anggota komunitas lainnya berkumpul di kota tersebut untuk menandai awal dari musim liburan.
"Masih ada pertunjukan panjang lainnya yang akan dibuat oleh Israel nantinya, untuk mengalihkan perhatian dunia dari kebijakan-kebijakan pengambilalihan terhadap orang-orang Palestna," kata Erakat.
Di satu sisi, Israel mengadakan acara untuk merayakan hari libur umat Kristen tersebut, sementara di sisi lain mereka melanjutlan untuk "memutuskan hubungan yang sudah ada sejak lama antara Yerusalem dan Bethlehem melalui pembangunan tembok dan perluasan pemukiman di sekeliling Bethlehem, termasuk Har Homa dan Gilo."
Tindakan Israel yang berupaya untuk mengisolasi Yerusalem dari tetangganya, Tepi Barat, memisahkan tempat-tempat suci, serta para keluarga dan jaringan agama, dikutuk oleh Erekat.
"Kami mengusahakan sebuah Yerusalem yang terbuka sebagai ibu kota dari dua negara di mana akses bebas bagi semua tempat-tempat suci terjamin."
Sebaliknya, ia menambahkan, "Israel melanjutkan rencananya untuk membuat Yerusalem menjadi sebuah kota eksklusif Yahudi."
Erekat menekankan bahwa tujuan sebenarnya dari kabinet Israel adalah untuk mengalihkan perhatian dunia dari kebijakannya terhadap pengambilan hak-hak rakyat Palestina.
Menggunakan hari Natal sebagai sebuah acara untuk memperdalam pemisahan dari dua tanah tersebut, merupakan sebuah tindakan yang merugikan bagi hari libur itu sendiri.
"Natal seharusnya menjadi hari yang baik yang tidak akan dan tidak seharusnya dinodai dengan tindakan-tindakan melanggar hukum dari sebuah pendudukan militer."
Dalam pernyataannya pada akhir November, Erekat mengutuk persetujuan 130 unit perumahan di pemukian ilegal Gilo. Menurutnya, Israel telah "memulai tradisi tahunan 'hadiah natal' bagi orang-orang Bethlehem."
"'Hadiah' tahun lalu adalah perluasan dari Har Homa, juga di tanah Bethlehem. Nampaknya, setiap Desember, Israel mendorong agendanya untuk lebih jauh mengisolasi Bethlehem dari Yerusalem Timur yang terjajah."
Pada Natal tahun lalu, warga Kristen Palestina juga mendapatkan "hadiah kejutan lain" dari Lobi Yahudi yaitu menyebarnya selebaran yang menentang hotel-hotel dan restoran yang mendirikan pohon-pohon Natal dan simbol-simbol Kristiani lainnya.
Menurut pimpinan lobi tersebut, Ofer Cohen, mereka telah menerima dukungan dari para rabbi, "dan kami bahkan mempertimbangkan untuk mempublikasikan nama-nama dari bisnis-bisnis yang memasang pohon-pohon natal menjelang hari libur umat Kristen dan menyerukan boikot terhadap mereka."
Selebaran dan iklan disebarkan ke masyarakat yang berisikan, "Orang-orang Israel telah menjaga mereka selama bertahun-tahun dengan tujuan untuk mempertahankan nilai-nilai dari Taurat, Israel dan identitas Yahudi." []
© Suara Media
Masuk: 04 Des 2010 (14:46 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi