| Serbi-serbi lainnya |
Sumber-sumber di Jerusalem mengatakan rumah-rumah itu dibangun tanpa izin. Palestina menyatakan izin seperti itu tidak mungkin diperoleh dan menuduh Israel akan menggunakan pembongkaran tersebut untuk memperketat cengkeramannya atas wilayah yang diduduki dan di sekitar Jerusalem.
"Ini adalah bagian dari rencana Israel untuk merusak keseimbangan demografis," kata Hatem Abdel-Qader yang mengurusi masalah Jerusalem dalam gerakan Fatah pimpinan presiden Palestina Mahmoud Abbas.
AS, yang berusaha untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai, mengatakan pembongkaran rumah Paletina "tidak melancarkan proses damai". Negara Barat lainnya dan organisasi hak asasi manusia lebih terus-terang dalam kecaman mereka terhadap kebijakan pembongkaran Israel itu.
Sumber AFP melaporkan, tentara polisi perbatasan paramiliter Israel dikerahkan untuk mengamankan perataan dengan tanah kedua rumah dengan buldoser. Salah satu rumah itu di Shuafat dan yang lainnya di Sur Baker, lingkungan masyarakat Palestina di pinggiran Jerusalem.
"Badan-badan internasional dan Dewan Keamanan PBB seharusnya campur tangan untuk menghentikan pemerintah Israel melakukan tindakan kriminal itu," kata Adnan al-Husseini, gubernur Jerusalem yang ditunjuk Palestina.
Awal tahun ini, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mendesak penghentian pembongkaran rumah di Jerusalem timur. Statistik dalam laporan PBB yang dipublikasikan Mei menunjukkan bahwa 1.500 perintah pembongkaran telah dikeluarkan oleh Jerusalem sambil menunggu tempat tinggal Palestina yang dibangun tanpa izin.
Laporan itu mengatakan bahwa jika perintah itu dilaksanakan, sekitar 9.000 warga Palestina akan terlantar. Sekitar 200.00 orang Yahudi tinggal di Jerusalem Timur, berdampingan dengan sekitar 250.000 warga Palestina. [NUO]
Seruan PBB
PBB, Selasa, menyeru Israel agar segera menghentikan pengusiran paksa dan penghancuran rumah orang Palestina di Jerusalem Timur. Organisasi dunia itu juga memperingatkan bahwa sebanyak 60.000 orang di sana mungkin menghadapi risiko pengusiran paksa, penghancuran rumah dan kehilangan tempat tinggal.
Pemerintah Israel menghancurkan rumah enam keluarga Palestina--26 orang, termasuk 10 anak kecil--di Jerusalem Timur pada Selasa. Itu membuat jumlah warga yang kehilangan tempat tinggal akibat pengusiran paksa atau penghancuran rumah di wilayah pendudukan Palestina, jadi 600 orang, separuh adalah anak kecil, kata Kantor PBB Urusan Koordinasi Kemanusiaan (OCHA).
Sedikitnya 500 orang lagi telah terpengaruh oleh penghancuran sebagian tempat tinggal atau rumah mereka, kata kantor itu. "Tindakan semacam itu bertolak-belakang dengan hukum internasional dan memiliki dampak negatif serius jangka panjang terhadap masyarakat dan keluarga Palestina," kata OCHA.
"PBB menyampaikan kembali seruannya bagi penghentian segera dan tanpa syarat tindakan semacam itu dan mendesak Negara Israel agar melindungi penduduk sipil di wilayah pendudukan dari pengusiran lebih lanjut."
Israel menduduki wilayah Palestina, termasuk Jerusalem Timur, dalam perang 1967 dan mencaplok Jerusalem Timur dalam tindakan yang tak diakui masyarakat interasnional. Menurut pemerintah Israel, penghancurkan rumah dilankukan terhadap rumah "yang dibangun tanpa izin resmi pembangunan, yang dicapnya tidak sah".
Namun OCHA mengatakan, "Kurangnya perencanaan yang layak ditambah dengan persyaratan ketat pemerintah serta biaya yang tinggi membuat sangat suli bagi penduduk Palestina untuk memperoleh izin semacam itu,"
Alhasil mereka tak memiliki pilihan kecuali membangun 'secara tidak sah' untuk memberi tempat berteduh kepada keluarga mereka. Keluarga Palestina yang pindah ke luar perbatasan kotapraja beresiko kehilangan kartu tanda penduduk Jerusalem mereka, sekaligus kehilangan hak tinggal di dalam dan akses ke kota tersebut."
Menurut perkiraan konservatif, sebanyak 60.000 orang Palestina di Jerusalem Timur mungkin menghadapi resiko penghancuran rumah dan pengusiran paksa. "Banyak lagi orang Palestina menghadapi tekanan yang meningkat untuk meninggalkan kota itu, akibat pembatasan fisik, hukum dan administrasi yang mempengaruhi setipa aspek kehidupan harian mereka," kata OCHA. [Rep]
Masuk: 28 Okt 2009 (12:21 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi