| Serbi-serbi lainnya |
Pernyataan Mayjen Soewarno ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, kultur masyarakat Jatim yang terbuka menjadi salah satu pintu gerbang masuknya kelompok teroris.
Selain itu, berdasarkan laporan intelejen yang ia terima, banyak sekali kelompok-kelompok yang diduga jaringan teroris sudah masuk ke wilayah Jatim.
Salah satu contohnya adalah pemberangkatan sekitar 20 orang pemuda dari Mojoanyar, Mojokerto ke Bekasi, belum lama ini. Dengan mata tertutup 20 orang ini dibawa ke salah satu markas kelompok tak dikenal.
Di markas tersebut mereka diberi doktrin tentang pendirian RII (Republik Islam Indonesia). “Namun upaya itu akhirnya bisa digagalkan,” kata Soewarno
Ditambahkannya, dalam tiga bulan terakhir ini juga ditemukan sejumlah bahan peledak jenis granat di kawasan tapal kuda, yakni Banyuwangi dan Jember.
Indikasinya, bahan peledak itu adalah milik kelompok teroris. Tudingan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, di kawasan tersebut tidak ada pangkalan militer. “Jadi bahan peledak itu bukan milik TNI/Polri,” tambahnya.
Untuk meminimalisir melebarnya kekuatan itu, Soewarno meminta bantuan seluruh pondok pesantren di Jatim ikut memerangi aksi teroris dari mulai pengkaderan hingga pergerakan. [PK]
Masuk: 16 Sep 2009 (16:17 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi