| Serbi-serbi lainnya |
Saat dihubungi Tempo, Senin Sore, Bahrul mengatakan, dalam APBN 2009-2010, Kementerian Agama menyediakan 87 persen dari total anggarannya untuk fungsi pendidikan. Besarnya sekitar Rp 26 triliun. Fungsi itu dianggapnya mampu mencegah terjadinya konflik di antara umat beragama.
Selain itu, lanjut Bahrul, Kementerian Agama pun telah menganggarkan untuk membentuk fourm kerukunan umat beragama. "Untuk membina kerukunan diantara umat beragama kita telah membangun forum kerukunan beragama di setiap lokasi di daerah-daerah. Itulah konsep organisasi yang dibentuk kita sebagai pencegahan munculnya konflik," ujar dia.
Contoh lainnya, papar Bahrul, adalah dengan dimasukannya pendidikan multi cultural ke pembinaan masyarakat. Dengan pendidikan multi cultural itulah Kementerian Agama berharap agar dapat menjadi solusi yang jangka panjang untuk terus membina kerukunan antar umat beragama.
"Jadi kalau kita dianggap sebagai pemadam kebakaran, itu tidak benar. Kita justru lebih memfokuskan pada program-program kerukunan yang berjangka panjang. Dan itu semua diharapkan bisa mencegah konflik timbulnya kerukunan beragama," kata Bahrul.
Dia pun menjelaskan, ke depan, Kementerian Agama akan terus meningkatkan program-program pendidikan. Karena itulah, Bahrul mengatakan, saat ini Kementerian Agama telah mengusulkan anggaran untuk pendidikan ditambahkan dari 87 persen menjadi 90 persen. "Untuk APBN 2011 mungkin akan 90 persen untuk anggaran pendidikan," tambahnya.
Penilaian bahwa Kementerian Agama lebih sebagai pemadam kebakaran disampaikan oleh Sekertaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Yuna Farhan. Sebab, menurut FITRA, dari Rp 30,5 miliar program kerukunan hidup beragama pada fungsi agama di APBN 2009-2010, sebanyak 37 persen atau sekitar Rp 11,5 miliar yang digunakan untuk kegiatan pasca konflik. []
© Tempo
Masuk: 13 Sep 2010 (17:21 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi