| Serbi-serbi lainnya |
Pada perang 1967, Jordania menguasai Jerusalem Timur sedangkan Israel menguasai Jerusalem Barat. Pagar kawat berduri dan tembok memisahkan kedua wilayah itu. Tak lama setelah terjadinya perang, Israel mencaplok Jerusalem Timur, yang kemudian menimbulkan reaksi keras dunia. Sedangkan wilayah Tepi Barat dan Gaza dibiarkan oleh Israel.
Pemerintahan Israel sebelumnya, mengindikasikan adanya keinginan menyerahkan wilayah itu ke Palestina sebagai bagian dari proses perdamaian. Namun Netanyahu yang menjabat sebagai perdana menteri sejak 31 Maret lalu itu, menentangnya. Ia tak ingin ada bagian wilayah Jerusalem yang diserahkan kepada pihak lain. Israel harus tetap memegang kendali sepenuhnya atas Jerusalem.
Netanyahu menyatakan Jerusalem merupakan ibu kota bagi rakyat Yahudi. Kota ini, kata dia, telah bersatu dan tak akan pernah terpisah lagi. "Jerusalem menjadi basis kebangkitan nasional kita dan telah mempersatukan rakyat kita baik yang sekular maupun religius," ujarnya. Ia menambahkan, hal ini juga telah ditegaskan ketika berkunjung ke Washington.
Menurut Netanyahu, hanya di bawah kedaulatan Israel, Jerusalem akan menjadi wilayah yang menghormati kebebasan beragama. Pun akan terwujudnya akses luas bagi pemeluk tiga agama yaitu Yahudi, Islam, dan Nasrani ke tempat-tempat suci yang ada di wilayah Jerusalem. Parlemen Israel, Knesset, juga menyatakan dukungannya terhadap kedaulatan Israel atas Jerusalem.
Juru Bicara Knesset, Reuven Rivlin, yang dikutip harian Haaretz, menyatakan kedaulatan Israel atas Jerusalem tak bisa dinegosiasikan."Dunia harus mengakui kedaulatan kita, juga keunggulan orang-orang Yahudi di tempat-tempat suci. Ini merupakan hak yang tak bisa diabaikan," katanya.
Namun klaim Israel ini ditolak Palestina. Rafik Husseini, orang dekat Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menentang sikap Netanyahu. Ia menyatakan Palestina menerima solusi dua negara dengan dasar, Jerusalem Timur menjadi ibu kota negara Palestina.
"Pendudukan Israel atas Jerusalem Timur merupakan tindakan ilegal. Upaya Israel untuk tetap menguasai Jerusalem Timur akan menjadi hambatan utama proses perdamaian," katanya.
Negosiator senior Palestina, Saeb Erakat, menyatakan sikap Netanyahu itu merupakan langkah mundur dari upaya tercapainya solusi dua negara, yang selama ini didukung AS. "Dengan pernyataannya Netanyahu itu, seakan dia menyatakan bahwa konflik akan abadi," katanya. [rep]
Masuk: 22 Mei 2009 (12:31 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi