| Serbi-serbi lainnya |
Desakan itu mengemuka dalam diskusi dan bedah buku Deradikalisasi Terorisme: Humanis, Soul Approach, dan Menyentuh Akar Rumput yang ditulis P Reinhard Golose, pengajar luar biasa dari Kajian Ilmu Kepolisian Program Pascasarjana Universitas Indonesia, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Kamis (20/8).
”Jika hanya bicara tentang proses pidana, jatuhnya hanya vendetta cycle. Para pelaku terorisme yang dihukum dianggap syuhada. Dan, hukuman mati itu justru diklaim mereka sebagai kisah sukses perjuangan. Ini tidak berkesudahan,” kata Golose, yang juga penyidik polisi perkara terorisme.
Golose mengatakan, dugaan keterlibatan bekas narapidana terorisme, yakni Bagus Budi Pranoto alias Urwah (buron), dalam pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton menjadi contoh konkret ”kegagalan” upaya hukum semata dalam memberantas terorisme.
Upaya deradikalisasi paham kekerasan, tambah Golose, dapat ditempuh melalui dialog intensif yang mengedepankan humanisme. Upaya itu harus diwujudkan oleh seluruh entitas masyarakat dan pemerintahan dalam program yang terukur.
Golose menegaskan, terorisme bertopeng agama adalah gejala global yang terjadi pada bermacam ajaran agama dan kepercayaan di sejumlah negara.
Parpol dan ormas
Sementara itu, partai-partai politik dan organisasi massa di Indonesia dikritik tidak sensitif menyikapi masalah terorisme. Sejauh ini tidak tampak tindakan nyata dari parpol dan ormas dalam upaya deradikalisasi paham-paham yang berpotensi berujung pada kekerasan.
Salah satu panelis dalam diskusi, psikolog sosial Sarlito Wirawan Sarwono, mengkritisi parpol dan ormas—termasuk yang berbasiskan agama—selama ini terkesan tidak punya sikap yang jelas terhadap masalah terorisme. Lebih jauh, parpol dan ormas juga tak tampak punya tindakan nyata dalam upaya deradikalisasi terorisme.
”Sangat disayangkan, mereka hanya sibuk dengan urusan perolehan kursi kekuasaan saja,” kata Sarlito seusai diskusi.
Sarlito menambahkan, akan lebih simpatik jika parpol berbasis Islam, misalnya, secara spontan menunjukkan tindakan empati kepada para korban pengeboman 17 Juli lalu, yang diklaim oleh pelaku selaras dengan ajaran agamanya.
Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Ansyaad Mbai menambahkan, parpol dan ormas punya peran besar untuk berkontribusi dalam upaya deradikalisasi. Terlebih, parpol dan ormas memiliki ruang dan akses membentuk opini publik. [Kmp]
Masuk: 21 Ags 2009 (13:37 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi