| Serbi-serbi lainnya |
Hal itu ditegaskan Pembantu Rektor Bidang Pengembangan Kelembagaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Sudarnoto Abdul Hakim, kepada SP, di Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (11/8).
Karena itu, kata Sudarnoto, para pemimpin Muslim moderat yang merupakan mayoritas terbesar Muslimin di Indonesia, agar berbicara lebih tegas dan jelas, bahwa penafsiran literal dan sepotong-potong terhadap Islam, akan menghasilkan ekstremisme, yang berujung pada tindakan radikal dan terorisme.
Islam sama sekali tidak merestui, apalagi memberi justifikasi terhadap tindakan kekerasan dan terorisme dalam bentuk apa pun. Sebab itulah, pengembangan toleransi antarumat beragama dapat dimulai dengan dialog-dialog antaragama yang dilakukan secara terbuka, berani, ikhlas, dan jujur, tidak dimulai dengan prasangka-prasangka teologis, politis, dan kultural.
Untuk lebih membumikan ajaran Islam yang humanis, UIN mengejawantahkan Islam ke dalam kurikulum. Misalnya, Islam dan HAM, Islam dan demokrasi, dan dialog antarpemeluk agama. Karena itu, katanya, dengan alasan atau dalil apa pun, terorisme tidak sesuai dengan Islam. "Sebab, terorisme jelas melanggar HAM dan demokrasi," katanya.
Sikap Toleransi
Direktur Eksekutif Masyarakat Muslim Moderat (Moderate Muslim Society/MMS), Agus Muhammad di Jakarta, Selasa, mengatakan, mengembangkan dan memperkuat sikap moderat dan toleransi, berupa saling memahami dan mengakui perbedaan satu sama lain dalam masyarakat, merupakan langkah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi agar keindonesiaan bisa tetap utuh. Sikap yang radikal dan ekstrem, dengan tidak mau mengakui perbedaan orang lain dengan menggunakan cara-cara kekerasan, harus diperangi.
Sementara itu, sosiolog dari Universitas Indonesia, Imam B Prasodjo mengatakan, tokoh-tokoh agama tidak mampu menyerap dan memberdayakan masyarakat (yang tanpa akses) secara tuntas. Imam juga meminta kepada masyarakat untuk meningkatkan nasionalisme dengan tidak merusak aset-aset bangsa.
"Perlu diingat, Noordin M Top itu warga negara Malaysia bukan Indonesia. Kalau dia (Noordin) mau memerangi negara Barat, kenapa tidak di negaranya sendiri yang juga banyak aset-aset negara Barat. Kenapa harus menghancurkan Indonesia?" ujar Imam.
Dia mensinyalir adanya faktor ekonomi untuk menjelek-jelekkan Indonesia di mata dunia dengan aksi teror. Tujuannya, agar investasi dan kegiatan perekonomian di Indonesia hancur dan beralih ke negara lain, hanya dengan alasan keamanan. [SP]
Masuk: 12 Ags 2009 (20:06 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi