| Serbi-serbi lainnya |
Ketiganya menurut polisi merupakan orang-orang yang diduga menjadi kaki tangan buron teroris kelas kakap Noordin M Top. Melejitnya nama mereka juga seiring dengan drama penggerebekan 17 jam lebih di rumah Muh Jahri di Dusun Beji RT1/VII, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Jumat (7/8) hingga Sabtu (8/8).
Sejatinya, di lingkungan Desa Kedu, bahkan mungkin di Kecamatan Kedu,tiga nama bersaudara tersebut sudah tidak asing.Kendati satu sama lain dikenal dengan karakter yang berbeda, terutama antara kakak beradik Aris dan Indra dengan Muh Jahri,ketiganya sama-sama terkenal. Aris dan Indra dikenal karena keduanya dulu adalah preman yang menguasai sekitar wilayah Pasar Kedu,sementara Muh Jahri adalah bekas PNS, guru, dan seorang penceramah pada khotbah Jumat di Masjid Darussalam,Dusun Beji.
Kenakalan dua kakak beradik putra pasangan Utomo, 61, dan Darpinah, 57, itu diakui sendiri oleh anggota keluarga dan teman dekatnya. Adik mereka yang paling kecil, Freddy Gustaf, 20, mengaku bibit kenakalan sudah terlihat sejak keduanya menginjak usai remaja. Perilaku bercirikan preman mulai muncul ketika mereka masuk SMP.
Berkali-kali keduanya harus drop out (DO) dari sekolah dan pindah ke sekolah lain hanya karena mereka kerap berkelahi dengan teman sekolahnya. Semasa menempuh pendidikan tingkat SMP,Aris harus menamatkan pelajarannya di dua sekolah berbeda. Bahkan hanya untuk menamatkan tiga tahun di pendidikan SMA,putra kedua dari lima bersaudara itu harus empat kali pindah sekolah.
Tak berhenti sampai di situ, kenakalan Aris makin menjadi-jadi selepas pendidikan SMA.Dia salah pergaulan dan kerap mengonsumsi narkoba jenis pil ineks dan koplo. “Karena hal tersebut,pada 2000 dia sempat meringkuk di LP Temanggung selama tiga bulan,” kataFreddy. Sementara Indra memiliki perilaku tak jauh beda dengan Aris. Indra bahkan tak sempat lulus SMA.
Dua kali Indra dikeluarkan dari pondok pesantren (ponpes), yakni saat di Ponpes Assalam Magelang dan sebuah ponpes di Pecangaan, Jepara. Ketenaran keduanya di lembah hitam itu juga diakui tetangga. “Kalau soal berkelahi, kakaknya, si Aris, lebih jago. Dia memang punya mental pemberani. Bahkan, preman sini yang katanya kebal bacok senjata tajam saja takut sama Aris.
Tidak tahu kenapa takut sama Aris, yang jelas dia memang pemberani,”tutur Sri Riwayati, 50, tetangga yang bertempat tinggal tepat di depan bengkel sepeda milik Aris di Jalan Jumo-Kedu Km 0,Desa Kedu. Perilaku tersebut tak pelak membuat kedua orangtua Aris dan Indra terpukul.Pada 2001, ibu Aris dan Indra,Darpinah,terpaksa harus mengalihkan rasa stresnya dengan bekerja ke Arab Saudi.
“Satu tahun saya di Arab. Pulang dari Arab saya jatuh sakit.Waktu sakit,saya bilang ke Aris dan Indra,kalau mereka tak berhenti nakal, saya akan terus menderita sakit,”tutur Darpinah. Ancaman ibunya tersebut membuat Aris dan Indra mulai sedikit mengubah perilakunya.Tahun 2003 Aris menikahi wanita pujaannya, Apri,dan dikaruniai satu anak.
Namun rupanya kepatuhan Aris hanya sementara hingga akhirnya tahun 2005 dia digugat cerai Apri lantaran tak kuat dengan perilaku Aris. Pada 2006, Aris kembali menikah, sedangkan Indra menikah untuk yang pertama.Sejak pernikahan itu,mereka mulai terlihat tidak lagi nakal.Keduanya lebih sibuk mengurus bengkel sepedanya di dekat Pasar Kedu.
Keduanya juga mulai mengikuti pengajian-pengajian taklim di berbagai tempat. Ketenaran yang beda melekat pada diri Muh Jahri. Kakak kandung dari Darpinah atau paman Aris dan Indra itu selama ini memang sudah dikenal di lingkungannya sebagai orang yang taat beragama dan tidak neko-neko.
“Kalau kakak saya itu dari kecil memang orangnya baik dan tekun beribadah. Saking sayangnya kami kepada kakak,kami adik-adiknya membantu membangunkan rumah tinggalnya yang sekarang porakporanda,” tutur Darpinah. Kealiman dari Muh Jahri diakui oleh warga Dusun Beji.
Karena itulah, meski baru enam tahun tinggal di Dusun Beji (sebelumnya tinggal di Dusun Siwur, Desa Karangtejo, Kecamatan Kedu),dia sudah dipercaya memimpin berbagai kegiatan keagamaan. “Pak Jahri itu ketua selapanan dan tiap Jumat mengisi khotbah di masjid dusun kita. Jadi kayaknya kok tidak mungkin dia terlibat di jaringan teroris,” kata Kepala Dusun Beji,Hartoyo. [KSI]
Masuk: 11 Ags 2009 (21:10 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi