| Serbi-serbi lainnya |
Hal itu ditemukan dalam penelitian bersama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Unversitas Syarif Hidayatullah Jakarta, yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.
Anggota Fraksi PDI Perjuangan di MPR, Eva Kusuma Sundari memaparkan hasil temuan riset itu dalam keterangan pers-nya di Jakarta, hari ini.
Dari 2500 responden penelitian itu, kata Eva, ditemukan umumnya masyarakat mempunyai persepsi positif terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Berkaitan dengan isu pluralisme kebebasan beragama misalnya, dari 2.500 responden di 33 provinsi, sebanyak 95,4 persen setuju terhadap nilai setiap warga harus menghormati apapun agama dan kepercayaan masing-masing orang.
Namun ketika persepsi di atas dianalisis lebih jauh, riset menunjukkan bahwa penghormatan itu lebih disebabkan faktor normatif (78 persen) dibanding faktor patriotis (22 persen).
"Artinya, toleransi masyarakat terhadap perbedaan agama masih sebatas wacana intelektual atau komitmen moral, belum pada tingkat tindakan atau komitmen politik," kata Eva.
Temuan tersebut konsisten dengan temuan lainnya atas aspek-aspek pengamalan masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila.
Walau secara umum masyarakat telah mengamalkan berbagai aspek Pancasila, kata Eva, tetapi masih enggan menerima dan menjalankan perkawinan lintas agama terutama dalam keluarga sendiri (46 persen).
Jurang yang lebar antara pernyataan dan pengamalan juga berlaku untuk isu kemiskinan dan ketidakadilan.
"Hanya sekitar 48,5 persen responden menyatakan pernah terlibat aksi protes atas ketidakadilan yang terjadi di lingkungannya," tutur Eva.
Temuan riset lainnya yang konsisten dengan tesis itu adalah pendalaman masyarakat tentang kualitas pengalaman Pancasila yang menemukan hanya 3 persen responden yang mengamalkan Pancasila dengan penuh kesdaran.
Sedangkan 97 persen lainnya mengamalkan secara biasa saja.
"Ini kontradiktif dengan fakta dan hasil riset bahwa mayoritas masyarakat, atau 90 persen orang Indonesia, setuju bahwa Pancasila harus dipakai sebagai dasar bertindak dalam kehidupan sehari-hari," tutur Eva.
Temuan-temuan di atas merupakan peringatan serius bagi MPR dan para penyelenggara negara bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa semakin kehilangan makna.
"77 persen responden juga khawatir bahwa globalisasi beserta nilai-nilai dari ideologi-ideologi luar akan menggeser nilai-nilai Pancasila akibat kesadaran untuk mengamalkan Pancasila yang masih lemah," kata Eva. []
© Berita Satu
Masuk: 11 Feb 2012 (23:25 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi