| Serbi-serbi lainnya |
Menurut Salafi, serbuan terhadap Kedubes Israel tersebut akan memberikan keuntungan bagi Israel.
"Serangan itu akan mengubah mereka dari pelaku menjadi korban. Dan fokus akan bergeser, dari tuntutan kita untuk mengamendeman Perjanjian Camp David, menjadi seruan Israel untuk membantu melindungi kedutaan mereka di Mesir," kata kelompok ini sebagaimana dilansir surat kabar Al-Ahram, Ahad (11/9).
Salafi menyatakan rakyat Mesir bersatu dalam kebencian mereka terhadap Israel. "Alhamdulillah, kita harus melawan normalisasi budaya (dengan Israel) dan kita harus mendorong isolasi internasional terhadap Israel."
Kelompok ini juga mengecam pernyataan Presiden AS Barack Obama yang meminta Mesir menghormati kewajiban internasionalnya untuk menjaga keamanan kedutaan Israel, serta mengingatkan Presiden AS bahwa Mesir kini telah berubah sejak Revolusi 25 Januari.
Salafi menuding seruan untuk melakukan kekerasan terhadap Kedubes Israel tersebut sebenarnya dilakukan oleh mantan perwira polisi Mesir yang dibeking AS, Omar Afifi.
"Afifi yang kini tinggal di AS menggunakan internet untuk menghasut perpecahan di kalangan rakyat Mesir. Ini adalah tindakan permusuhan yang harus dihentikan AS sebelum menegur kami atas apa yang terjadi," tegas pernyataan tersebut.
Kelompok ini juga mendesak Dewan Tertinggi Militer yang kini berkuasa dan Kementerian Luar Negeri Mesir untuk menyatakan bahwa apa yang dilakukan Israel adalah 'aksi' dan serangan terhadap Kedubes Israel adalah 'reaksi'.
"Serangan Israel di perbatasan—yang menewaskan lima aparat keamanan Mesir di Rafah—adalah tindakan suatu bangsa yang bertanggung jawab, dan reaksi Mesir adalah respon populer," kata Salafi.
Kelompok ini juga mengecam upaya-upaya untuk menyalahkan dan menyerang polisi Mesir di seluruh negeri karena adanya pelanggaran terhadap warga negara.
Salafi di Alexandria, kota terbesar kedua Mesir, juga menyerukan penyelidikan segera terhadap kekosongan keamanan pada hari kedutaan Israel diserang. Mereka juga meminta aparat yang menyerukan serangan ini untuk bertanggung jawab secara moral dan politik atas apa yang mereka lakukan. []
© Republika
Masuk: 12 Sep 2011 (00:57 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi