| Serbi-serbi lainnya |
“Kami masih ingat, sehari setelah dilantik menjadi Pj Walikota Medan dia mengatakan tidak perlu rapat-rapat lagi, cukup mengacu kepada perda dan tidak ada kajian-kajian lagi dari berbagai pihak karena Perda Tata Ruang No 15 Tahun 1994 sudah cukup sebagai payung hukum penertiban ternak kaki empat, tanpa perlu peraturan walikota.
Sekarang, mana tindakan Rahudman? Semua hanya bohong!” seru Koordinator Lapangan, Indra Suheri SAg,” usai pertemuan dengan pejabat Pemko terdiri dari Asisten Pemerintah, Drs Daudta P Sinurat, MM, Asisten Umum, Sulaiman SH MM, dan Kadis Peternakan dan Perikanan, Ir Wahid di ruang rapat lantai II, Senin (12/10). Dalam pertemuan yang mendapat kawalan ketat petugas Poltabes MS dipimpin Kapoltabes AKBP Imam Margono itu tidak membuahkan hasil.
Dia juga mengatakan, pihaknya akan menunggu gebrakan Pj Walikota Medan pada tanggal 15 Oktober 2009 mendatang. Jika pada saat itu, Pj Walikota Medan dan jajarannya tidak melakukan tindakan untuk menertibkan ternak babi sebagaimana janjinya, maka jangan salahkan pihaknya bersama ribuan umat Islam melakukan sendiri.
“Namun, sebelum langkah itu ditempuh terlebih dahulu kami akan bermusyawarah dengan sejumlah elemen yang terlibat dalam masalah ini. Dan hasilnya itu nantinya kami akan bertindak tegas atau tidak,” ujarnya. “Masakn menertibkan Pedagang Kakilima (PK5) Rahudman gampang saja, tapi hewan kaki empat kesulitan,” ujarnya.
Kurang Arif
Menurut Indra Suheri yang mengkomandoi 23 elemen umat Islam di Kota Medan itu antara lain, FPI, Al Wasliyah, FKAB, JBMI, FIB, FUI, FPPI, LSM KIRAB, PARI, IDMI dan masyarakat, ketidakhadiran Rahudman Harahap dinilai kurang arif dan bijaksana dalam menampung aspirasi masyarakat Kota Medan.
“Kita datang ke Kantor Walikota Medan hanya untuk menuntut janjinya untuk menertibkan babi. Kalau hanya retorika saja tidak ada habis-habisnya, tapi yang terpenting adalah tindakan di lapangan,” sebutnya.
Sebelumnya, dalam pertemuan perwakilan pengunjukrasa dengan perwakilan Pemko Medan sempat terjadi perang ‘urat sarat’. Bahkan meja sempat dipukul. Akhirnya, pertentangan pendapat tersebut dapat diredakan petugas dan perwakilan mengundurkan dari dari musyawarah.
Pantauan di lapangan, seribuan massa dari 23 elemen di Kota Medan yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) Sumatera Utara, sebelum mendatangi Kantor Walikota Medan, berkumpul di lapangan Merdeka. Mereka melakukan long march. Untuk mengantisipasi aksi anarki Kantor Walikota dijaga aparat keamanan dari Samapta Poltabes Medan dan Brimobdasu dipimpin langsung Kapoltabes Medan. [AD]
Masuk: 14 Okt 2009 (18:09 UTC+07) | edit terakhir: 15 Okt 2009 (14:27 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi