| Serbi-serbi lainnya |
Dalam pesan suara yang disiarkan Al Jazeera, Abdelmalek Droukdel, pemimpin Al-Qaeda di Maghrib Islam (AQIM), berkata, "Segala bentuk negosiasi (mengenai sandera) di masa mendatang akan dilakukan dengan Osama bin Laden kami dan berdasarkan persyaratan-persyaratan yang ditetapkannya."
Droukdel, yang juga memiliki nama alias Abdel Moussab Abdelwadoud, juga menuntut Perancis "bergegas menarik pasukan keluar dari Afghanistan berdasarkan tenggat waktu resmi yang kalian umumkan secara resmi."
"Jika kalian tidak berhenti mencampuri urusan kami dan menekan para Muslim, dan jika kalian menginginkan perdamaian untuk warga kalian yang kami sandera, kalian harus menarik keluar pasukan kalian dari Afghanistan sesegera mungkin berdasarkan tenggat waktu yang akan kalian umumkan kepada publik," demikian isi pesan tersebut.
Alliot-Marie mengatakan, Perancis melakukan segala hal yang perlu dilakukan untuk membebaskan para sandera, yang diculik pada 16 September lalu dalam serbuan terhadap dua perusahaan tambang uranium Perancis di dekat Arlit, sebelah utara Niger.
Sang menteri luar negeri dengan jelas mengatakan, bagaimanapun, "Perancis tidak bisa terima jika kebijakannya didikte orang-orang dari luar."
"Perancis melakukan segala hal yang mampu dilakukan untuk para sandera, di mana pun mereka berada, agar bisa dibebaskan dengan selamat," kata Alliot-Marie.
Namun, Droukdel tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai bagaimana menghubungi bin Laden, yang diyakini bersembunyi di gunung-gunung yang terletak di antara Afghanistan dan Pakistan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Perancis, Bernard Valero, dalam keterangan kepada kantor berita AFP sebelumnya mengatakan bahwa rekaman suara tersebut sedang diperiksa keasliannya.
Selasa lalu, Presiden Nicolas Sarkozy mengatakan bahwa ia "amat khawatir" dengan nasib para sandera yang sebagian besar di antaranya bekerja untuk perusahaan raksasa nuklir Areva dan perusahaan kontraktor di bawahnya. Tapi, ia mengatakan bahwa ancaman-ancaman tersebut tidak akan mengubah kebijakan Perancis.
Mantan menteri pertahanan Perancis, Herve Morin, yang mengikuti krisis penyanderaan tersebut hingga kehilangan jabatannya dalam reshuffle kabinet pekan lalu, mengatakan bahwa rujukan terhadap bin Laden dalam rekaman yang dirilis Kamis itu merupakan hal yang baru.
"Penarikan pasukan Perancis dari Afghanistan adalah hal lama, tuntutan yang biasa diberikan untuk segala bentuk serangan," katanya kepada radio France Info.
"Yang baru adalah rujukan kepada bin Laden, secara umum dan khususnya dengan AQIM. (AQIM) lebih dari sekadar cabang. Al-Qaeda bukan semacam perusahaan yang memiliki banyak cabang. Strukturnya tidak semacam itu," katanya.
"Jadi, rujukan kepada bin Laden adalah hal baru, itu belum pernah kami dengar sebelumnya dalam penculikan lain yang sejenis," tambahnya.
Di antara para sandera, ada 5 orang warga negara Perancis, satu warga Togo, serta satu warga Madagaskar.
Juli lalu, AQIM mengklaim telah membunuh Michel Germaneau, sandera Perancis berusia 78 tahun, di Mali setelah operasi penyelamatan Perancis-Mauritius yang gagal dan menewaskan enam anggota AQIM.
Pakar terorisme Afrika Utara, Mathieu Guidere, mengatakan kepada France 24 bahwa pesan tersebut merupakan upaya politik yang disampaikan bersamaan dengan penyelenggaraan konferensi NATO yang membahas mengenai perang di Afghanistan.
Oktober lalu, pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden menyampaikan pesan serupa untuk Perancis. Dalam pesan suara tersebut, bin Laden menyerukan Perancis agar menarik keluar pasukannya dari Afghanistan dan tidak lagi campur tangan dalam urusan Afrika.
"Persamaannya sederhana saja, jika kalian membunuh, kalian akan dibunuh; jika kalian menyandera, kalian akan disandera; jika kalian mengancam keamanan kami, kami akan mengancam keamanan kalian," demikian terjemahan bahasa Inggris dari rekaman tersebut yang dilansir Al Jazeera. []
© Suara Media
Masuk: 21 Nov 2010 (11:11 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi