| Serbi-serbi lainnya |
Dalam kategori distribusi pemilih muslim dan nonmuslim, pemilih muslim yang meninggalkan SBY-Boediono melonjak sebesar empat persen. Bila bulan Mei pemilih muslim yang memilih SBY-Boediono ada 71 persen, pada bulan Juni merosot tinggal 67 persen.
Menurut Tifatul, menyimpulkan SBY-Boediono telah ditinggalkan pemilih muslim sangatlah tidak logis. "Karenanya saya tidak percaya survei LSI itu. Surveinya nggak cerdas," ujar Tifatul kepada Republika, di Jakarta, Kamis (25/6).
Tifatul melanjutkan, survei LSI sama saja menyudutkan keberadaan partai-partai berbasis massa muslim di koalisi Partai Demokrat (PD). Gejala serupa pernah ditunjukkan LSI saat menyimpulkan kalau partai-partai berbasis massa akan anjlok pada pemilihan legislatif, 9 April lalu.
"Jadi saya tidak heran kalau sekarang kesimpulannya seperti itu, dulu juga sama kita-kita dibilang turun suaranya. LSI memang tidak suka dengan partai-partai Islam," imbuh Tifatul.
Berbeda dengan survei LSI, berdasarkan pemetaan internal yang dilakukan PKS dan mitra koalisi PD lainnya, massa muslim justru semakin simpatik terhadap pasangan SBY-Boediono. Derasnya fitnah yang menyudutkan masalah religiusitas Boediono dan istrinya, kata Tifatul, justru menjadi bandul simpatik yang mengayun lebih keras untuk mantan menteri koordinator perekonomian tersebut.
"Ada yang bilang istri Pak Boediono katolik, saya tertawa. Tidak ada keraguan sedikit pun bagi PKS tentang kemusliman Pak Boediono dan istrinya," kata Tifatul.
Dia menambahkan, pemetaan yang dilakukan PPP, PKB, dan PAN juga menunjukkan gejala yang sama, yaitu makin banyak pemilih muslim yang memilih SBY-Boediono.
"Dari pembicaraan dengan Pak Suryadharma Ali, Cak Imin, dan kawan-kawan PAN ya memang seperti itu. Jadi memang nggak cerdas itu survei LSI," tandas Tifatul. [Rep]
Masuk: 25 Jun 2009 (20:48 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi