| Serbi-serbi lainnya |
Jika terealisasi, maka sanksi tersebut merupakan 'kelanjutan' dari sanksi finansial yang sudah ditetapkan Presiden AS Barack Obama. Namun sanksi dari Uni Eropa ini akan fokus pada sektor perminyakan Iran, yang tercatat mengekspor 90% minyaknya ke Benua Biru tersebut.
Para menteri luar negeri Uni Eropa akan menggelar pertemuan pada Senin (23/1/2012) untuk memperkuat sanksi yang telah ada dengan menghadang impor minyak Iran dan juga bidang finansial, petrokimia dan emas.
Kebijakan itu akan diambil ditengah meningkatnya konfrontasi menyusul laporan dari badan atom PBB, IAEA yang menyatakan Tehran semakin dekat membuat bom nuklir.
Ke-27 Menlu Uni Eropa itu akan menyepakati kebijakan baru melawan Tehran setelah membekukan aset 433 perusahaan dan 113 individu Iran, serta membatasi perdagangan dan investasi sektor industri migas Iran.
Mereka juga diperkirakan melarang penjualan emas, berlian dan logam berharga lainnya ke Iran serta pengiriman setiap koin dan mata uang baru. Uni Eropa saat ini tercatat mengimpor 600.000 barel minyak Iran per hari dalam 10 bulan pertama tahun lalu. Dengan demikian, Uni Eropa merupakan pasar kunci Iran setelah India dan China.
Namun ketergantungan Yunani atas minyak Iran telah mengganjal kesepakatan tersebut, terutama terkait waktu dan kondisi embargo minyak. Namun Yunani yang kini sedang terbelit utang dan sangat bergantung pada minyak Iran hingga sepertiga impornya mengaku telah menyepakati masalah finansial dengan Iran, termasuk pembayaran 60 hari dan tidak ada jaminan finansial.
Uni Eropa pun kini sedang bersiap mencari pemasok baru yang bisa memberikan berbagai kemudahan sebagaimana diberikan Teheran kepada Yunani. Kontak sedang dilakukan dengan Arab Saudi dan diharapkan Libya juga meningkatkan produksinya sehingga bisa membantu Uni Eropa.
"Yunani telah sepakat pada level politik untuk menghentikan impor minyak Iran. Pertanyaannya adalah, siapa yang dapat memberikan kompensasi. Akan lebih sulit untuk menemukan pemasok alternatif karena situasi finansial di Yunani saat ini," ujar seorang diplomat seperti dikutip dari AFP.
Iran tercatat memasok 34,2% dari total impor minyak Yunani. Iran juga memasok 14,9% impor minyak Spanyol dan 12,4% total impor Italia. Dengan kondisi 3 negara yang kini sedang mengalami kesulitan ekonomi, maka kemungkinan pembicaraan mengenai embargo minyak itu akan sulit.
Inggris, Prancis dan Jerman telah memberikan tenggat waktu selama 3 bulan, sementara Yunani minyak 1 tahun. Rencananya, embargo itu akan berlangsung selama 5 bulan dan efektif mulai 1 Juli.
OPEC Tidak Mau Ikut Campur
Presiden Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak Dunia (OPEC), Adul Karim Elaibi, mengatakan, kelompok negara produsen harus keluar dan tidak terpengaruh dengan politik.
Ajakan konfrontasi Amerika Serikat (AS) ternyata malah dihindari oleh para negara produsen minyak OPEC. Abdul Karim Elaibi yang juga menjabat sebagai Menteri Perminyakan Irak mengatakan OPEC pada posisi tidak ikut campur.
"Sementara Iran yang dianggap musuh oleh AS dan sekutunya dengan sanksi embargo minyak. Kami ke 12 negara yang tergabung di OPEC, menjaga anggotanya agar jangan mau diseret-seret AS dan sekutunya ke dalam politik kambing hitam," ujar Elaibi dalam laman Guardian.co.tt, Senin (23/1).
Elaibi, pekan lalu mengatakan, ia akan ke Teheran agar mempertimbangkan penutupan selat Hormuz. dengan alasan jalur tersebut merupakan lintasan seperenam minyak mentah dunia setiap hari. Tidak terlihat ketegangan selama pertemuan menteri minyak Iran dengan para pejabat OPEC.
Sebaliknya, pertemuan ini malah mencerminkan hubungan hangat antara Iran dan Irak, sejak pasukan koalisi AS menggulingkan mantan Presiden Saddam Hussein pada tahun 2003. Hal ini dikarenakan, Iran telah membantu membangun investasi besar-besaran di Irak. []
© Dtk/ROL
Masuk: 23 Jan 2012 (17:39 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi