Perisai.net - JUDUL Film: A Moment to Remember
Sutradara: Lee Jae-han [John H. Lee]
Pemeran: Jung Woo-Sung (Coi Chul-Soo), Son Ye-jin (Kim Soo-Jin)
Produksi: 2004
Genre: melodrama, romantis
Salah satu anugerah terindah yang TUHAN berikan kepada manusia adalah “otak” dan salah satu produk kemampuan otak adalah “berpikir.” Dari berpikir, lahirlah “kecerdasan” yang telah memosisikan manusia pada titik di atas mahluk hidup lainnya.
Film A Moment to Remember garapan Lee Jae-han merupakan salah satu film yang telah mengekspresikan dengan sangat baik, betapa pentingnya “otak” itu. Yang terutama digarap secara terfokus oleh pembuat film ini adalah masalah “kenangan” atau “memori.”
Jika Anda penggemar film, Anda tentu akan teringat sebuah film garapan Hollywood yang memiliki tema yang nyaris sama dengan film ini, yaitu film yang digarap oleh Peter Segal dan diperankan oleh Adam Sandler dan Drew Barrymore berjudul 50 First Dates.
Mungkin, A Moment to Remember terinspirasi dari film Hollywood itu, sebab film ini diluncurkan delapan bulan setelah 50 First Dates. Tapi, tujuan kita bukanlah ke sana. Melainkan bagaimana kita mengeksplorasi pesan yang coba disampaikan oleh penulis cerita.
Dua hal yang kontras dipertentangkan dalam film ini adalah untung ruginya “melupakan.” Apa sih untungnya jika kita melupakan sesuatu? Apa juga ruginya? Penulis cerita film ini barangkali ingin mengungkapkan fakta bagaimana orang bisa menilai “melupakan” selain merupakan aspek yang sering kita anggap “buruk,” tapi juga merupakan suatu anugerah.
Setidaknya ada tiga bagian dalam film ini yang bercerita tentang “melupakan”
- Ketika ayah Kim Ju Hon/Kim Sun-Jin (Sun-Jin) memaafkan dia ketika dia memutuskan untuk menikahi seorang pria yang sudah menikah. Sang ayah harus melupakan segala kebencian dan norma ketimuran;
- Ketika Sun-Jin membantu Coi Chul-Soo (Chul-Soo) untuk memaafkan ibunya yang telah menelantarkan dia ketika dia masih kecil. Chul-Soo harus melupakan hal-hal buruk yang telah ibunya lakukan;
- Ketika Sun-Jin harus melupakan semua kenangan dalam hidupnya.
Film ini akhirnya mengajarkan kita untuk menghargai diri kita sendiri sebagai mahluk yang telah diciptakan TUHAN dengan sempurna. Cara menghargai diri kita adalah dengan sedapat mungkin menciptakan kenangan yang indah dalam hidup ini dan membuat orang lain merasakan kenangan yang sama.
Betapa pun orang berkata bahwa cinta, persahabatan, kekuasaan, atau bahkan kekayaan adalah hal terpenting dalam hidup, film ini memberi kita jawaban yang berbeda. Bukan itu yang terpenting, tapi yang terpenting adalah “kenangan.”
Bagaimana mungkin seorang dapat menikmati indahnya cinta dan persahabatan atau kekuasaan dan kekayaan jika ia tidak memiliki “kenangan”? © Yoses R
Aktivis Magen Avraham
Masuk: 12 Jun 2008 (17:34 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi