| Ulasan lainnya |
Tulisan-tulisannya tidak hanya mengenai persoalan sosial, politik, budaya dan kemasyarakatan, tapi juga sesuai teologi dengan latar belakng ilmu yang pernah ditekuninya di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta.
Eka, seorang teolog terkemuka dari STT Jakarta. Hal itu bisa dibuktikan disetiap penampilannya di mimbar-mimbar gereja. Khotbahnya gampang dimengerti dan bahasanya lugas. Apa yang pernah disampaikan Eka di mimbar-mimbar gereja, termasuk tulisan-tulisannya yang pernah dimuat di beberapa media cetak nasional, kini diapresiasi PT BPK Gunung Mulia dalam bentuk buku.
Buku berjudul Iman dan Tantangan Zaman, yang sampulnya berwarna hijau, serta ada gambar seorang manusia yang berada di sebuah puncak sebuah gunung, agaknya cocok untuk menggambarkan judul dan isi bukunya. Kali ini Pdt. Eka menuliskan 17 renungan atau khotbah yang cukup relevan dengan kondisi dan situasi masyarakat dan warga gereja sekarang di Indonesia. Beberapa judul renungan yang ditampilkannya antara lain, kualitas hidup mengambil kutipan ayat dari Roma 8 :18 : 23 dan Yesaya 65 : 17-25, Tantangan Bagi Manusia Allah (1 Timotius 6 : 11-21), Kekristenan dan Iptek (Amsal 1 : 1-7), Kesejahteraan (Yesaya 61 : 1-9), Hidup di Tengah Kemajemukan (Daniel 1 : 3-9) dan Nabi dan Dukun (Ulangan 18 : 9-15, 20-22).
Ditulis juga, sekarang ini kehidupan keagamaan kita ditekan dan menghadapi tantangan. Buku ini diharapkan mampu menyegarkan iman kita menghadapi tantangan hidup. Menyimak tulisan-tulisan Pdt. Eka, kita diajak untuk merenung lebih kritis, lebih berani dan agar memahami makna kehidupan kekristenan. Dalam tulisan Iman dan Penganiayaan (2 Timotius 3 : 10-17) ditulis, "Orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya". Perhatikan kata-kata ‘yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus'. Yang dikatakan di sini bukan Cuma ‘beribadah' tetapi ‘hidup beribadah' yang berarti ibadah itu merupakan seluruh hidupnya, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Seluruh hidupnya itu merupakan ibadah melalui semua yang kita lakukan, semua yang kita katakan, dan semua yang kita hasilkan. Itulah ibadah sejati!" (halaman 38).
Ditulis lagi, "Ayat 12-13 mengatakan, orang yang mau hidup beribadah di dalam Yesus Kristus akan menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat. Tidak masuk akal, bukan? Menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat. Tidak masuk akal, bukan? Ang jujur hancur, yang makar mekar. Tetapi begitulah kenyataannya. Di DPR, anggota-anggota yang diam-diam terus, aman. Tetapi yang berani menyuarakan kebenaran, malah di recall. Apa maksud Tuhan sebenarnya? Kalau kita membaca Kitab Wahyu, misalnya, disitu dijelaskan apa maksud Tuhan (halaman 38).
Pada tulisan Hidup di Tengah Masyarakat (Yosua 23 : 16) ada kritik Pdt. Eka yang patut disimak,"...sampai sekarang masih saja ada orang yang sesumbar mau mengkristenkan seluruh Indonesia. Ini bukan saja salah, tetapi amat merugikan. Merugikan seluruh umat Kristen di Indonesia. Kenapa sih mesti pakai gembor-gembor? Beritakan Injil sampai ke ujung bumi! Benar! Jadikan, semua bangsa muridKu. Benar! Dengan catatan, lakukan ini dengan cara Kristiani, artinya dengan cara yang benar, baik dan sopan" (halaman 45).
Pada dasarnya buku ini amat penting disimak oleh warga gereja, apakah itu pemimpin sinode, gembala jemaat, majelis gereja atau anggota jemaat. Sebab, dalam buku ini banyak muatan moral, ajakan hidup harmonis dan penghargaan pada keberbedaan agama, suku dan ras. Selain itu, dalam buku ini ada pula diselipkan pengalaman-pengalaman hidup Pdt. Eka selama melayani. Sehingga buku ini menambah wawasan kita tentang kehidupan kekristenan.
© Jonro I. Munthe
Majalah Bona, Edisi Desember 2005, Hal. 24
Masuk: 11 Apr 2009 (14:10 UTC+07) | edit terakhir: 11 Apr 2009 (14:10 UTC+07)









|
dibaca sebanyak 4892 kali |

Komentar Pembaca
Rekomendasi